Sabtu, 09 April 2011

Hasil Hunting Foto di Pasar Wage Purwokerto

Rabu lalu kakak berbaik hati menemani saya hunting foto di Pasar Wage Purwokerto. Kami berdua penyuka fotografi. Kakak lebih intens dengan fotografi daripada saya. Ia bergabung dengan Komunitas Lensa Manual Purwokerto, sebuah komunitas fotografi yang anggotanya menggunakan lensa manual.

Kakak punya tiga kamera ; dua kamera SLR lama yang masih menggunakan film dan sebuah kamera SLR digital Canon EOS 1000D. Saya sama sekali tidak punya kamera. Siang itu saya memotret dengan Canon EOS 1000D milik kakak.

Berbeda dengan saya yang sejak dulu menjadi penggila genre fotografi jurnalistik, awalnya kakak suka memotret model. Tapi lama-lama dia bosan dan mulai tertarik pada foto-foto human interest. Fotografi jurnalistik juga pada dasarnya memang berfokus pada human interest, kesukaan kami pun nyambung.

Pasar Wage Purwokerto berlokasi di Jalan Jendral Sudirman. Kalau tidak salah, pasar ini pernah kebakaran pada 2001. Setelah kebakaran tersebut, pasar ini dibangun ulang. Tapi ia tidak lagi menyerupai pasar tradisional pada umumnya. Bangunan pasar yang baru didominasi oleh ruko-ruko.

Saya pribadi menyayangkan arsitektur barunya yang tidak mencerminkan wujud pasar tradisional. Bahkan, lebih menyerupai komplek ruko modern. Padahal, pasar ini adalah pasar tradisional terbesar se-Kabupaten Banyumas. Sejak zaman Belanda, tempat ini termasuk nadi perekonomian penting bagi warga Purwokerto.

Entah, ini pola yang menurut saya umum terjadi di Indonesia. Pasar “terbakar” lalu arsitekturnya berubah drastis. Saya sampai berasumsi pasar-pasar sengaja dibakar oleh oknum-oknum tertentu, supaya mereka bisa membangun ulang atau merelokasinya. Oknum-oknum yang nantinya “kecipratan” uang pembangunan atau relokasi pasar. Tapi sekali lagi itu hanya asumsi. Asumsi dari seorang yang tidak percaya lagi pada pemerintah.

Ini beberapa foto yang saya ambil di Pasar Wage Purwoketo. Saya masih perlu belajar banyak tentang fotografi jurnalistik. Mohon kritik dan sarannya :D

Diantara Para Pelintas

Lalu Lintas di Jalan Pasar

Mengatur Lalu Lintas

Bersaing dengan Toko

Berdagang di Area Parkir Kendaraan

Angkut Barang

Dua Sumber Air yang Berbeda

Dijual : Burung Emprit

Penjual Burung Emprit

Duduk Santai Sejenak

Anak Ayam Watna-Warni

Sendiri

Jual-Beli di Toko

Melintasi Ruko dan Lapak PKL

Lantai Dua Sebuah Ruko

5 komentar:

  1. fajar : eh mbk ayam difto bwt apa y?hhe

    BalasHapus
  2. menurutku kurang deket sama objek tik atau kadang terlalu jauh.

    ada foto yang idenya bagus seperti mengatur lalu lintas. lebih oke kalau jalannya kelihatan lebih banyak. atau paling ga satpam sama motornya keliatan di jalan.

    BalasHapus
  3. kalau kata beberapa fotografer profesional, "if your picture not good enough, you not close enough" (sori kalau bahasa inggrisnya salah). oya tik, panduan memotret jurnalistik kan ada EFTAD (entire, framing, timing, angle, detail) eksplore aja tuh satu-satu..

    BalasHapus
  4. tantangannya ya itu. Membangun kedekatan sama objek. Padahal di sisi lain, kita jangan mempengaruhi objek. Karena keberadaan kita..
    dan bersedia dipotret tentunya

    BalasHapus
  5. Fajar : hmmm...menurutku menarik ayamnya. Menarik karena aku suka anak ayam, cute. Jd kufoto deh...hehehe

    Kak Ze & Rian : Makasih byk masukkannya, Suhu :D

    BalasHapus