Minggu, 27 Maret 2011

Perlawanan Dari Balik Dinding Kaca*

Ketika kesadaran melawan tindakan represif tidak kunjung padam, demi mereka yang tertindas.

Warung Kopi Blandongan berlokasi di selatan Plaza Ambarukma, mal terbesar di Yogyakarta. Walaupun jaraknya tak jauh dari mal, kesan glamor sama sekali tidak melekat pada warung kopi itu. Bagian dalamnya didomiasi oleh beberapa meja kayu panjang. Kursi kayu yang tak kalah panjangnya terletak di dekat setiap meja.

Sore itu sekitar pukul lima, Muammad Syukur duduk bersama empat orang rekannya di salah satu kursi panjang. Penampilannya terlihah sederhana dengan balutan kaus putih dan celana jeans abu-abu gelap. “Konon di sini tempat nongkrongnya aktivis-aktivis Jogja lho,” katanya.

Pers Mahasiswa Vis a Vis Pemerintah

Syukur adalah aktivis di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mengemban amanah sebagai pemipin umum Arena. Sudah sekitar setengah tahun ia menjalani dinamika sebagai orang nomor satu di Arena.

Pers berfungsi menguatkan demokrasi melalui kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan, pers mahasiswa pun begitu. Namun, perjalanan menuju kebebasan pers tidak selamanya mulus di Indonesia, terutama ketika orde baru (Orba) berkuasa. Rezim yang represif itu mengekang kebebasan pers. Beberapa pers mainstream maupun pers mahasiaswa menjadi korban pembredelan Orba, tak terkecuali Arena.

Kala itu, ketakutan akan pembredelan oleh pemerintah sangat mempengaruhi pemberitaan-pemberitaan media. Banyak media memilih untuk menurunkan “berita aman” tentang keberhasilan ekonomi pembangunan guna menghindari ancaman bredel. Namun, tidak demikian dengan Arena.

Pemberitaan Arena mengenai pembangunan Waduk Kedung Ombo di Semarang pada 1987 membuat pemerintah geram. Ketika media-media lain memberitakan dampak positif pembangunan waduk, Arena dengan berani mewartakan penggususran petani dan penduduk yang bermukim di daerah yang akan dibangun waduk. “Pada saat itu berita-berita yang ada tidak memihak kepentingan rakyat, hanya menyiarkan keberhasilan ekonomi pembangunan. Isu-isu kerakyatan hampir dilupakan oleh media. Arena ingin menghadirkan sikap perspektif baru tentang media, khususnya saat bicara tentang media pers mahasiswa (persma),” kata Syukur. Tak ayal, pemerintah pun membredel LPM yang menggunakan kata-kata “Kancah Pemikiran Alternatif” sebagai jargonnya.

Walaupun dibredel, Arena tidak mati. Pria yang lahir di Bangkinang, provinsi Riau ini punya pandangan sendiri tentang kemampuan Arena bertahan hingga sekarang. Menurutnya, LPM ini dapat bertahan atau tidak adalah soal generasi. Setiap generasi mempunyai semnagtanya sendiri-sendiri. “Artinya walaupun dulu Orba berkuasa dengan begitu represif, hal ini justru membuat gerakan mahasiswa semakin masif.”

Melalui majalah yang terbit sekali setiap periode kepengurusan, Arena rutin mengawal jalannya penyelenggaraan negara. Hingga kini Arena masih berjuang sebagai pers yang mendorong isu-isu kerakyatan untuk dibicarakan menjadi isu-isu politik, bukan sebaliknya. Contohnya pemberitaan tentang ketidakadilan yang dialami buruh, eksploitasi petani, pemberitaan mengenai mentalitas budaya masyarakat Indonesia dan sebagainya.

Misalnya saja majalah Arena yang terbit tahun 2008. Majalah itu memberitakan ketidakadilan PT. Krene Gresik terhadap buruh-buruhnya, mulai dari pemutusan hubunga kerja secara sepihak, pemotongan gaji kerja, pembrengusan serikat pekerja dan sebagainya.

Bahkan pada majalah terbitan 2010 pun Arena masih setia mengangkat isu-isu kerakyatan. Majalah itu mengangkat upaya eksplotasi PT Semen Gresik, Tbk di Pati, Jawa Tengah. Syukur ikut menggarap majalah ini. Posisinya sebagai sekertaris redaksi saat itu membuatnya terlibat dalam penulisan majalah.

PT Semen Gresik, Tbk berencana membangun pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Pati. Pembangunan itu bertujuan untuk memacu produksi semen agar dapat tetap bersaing dengan pabrik semen-pabrik semen lain. Namun, pembangunan itu memicu polemik.

Rezim Orba yang otoriter memang sudah berlalu, tetapi pola-pola pembangunan yang menyerobot tanah rakyat masih terus terjadi. Terutama bagi beberapa proyek eksploitasi sumber daya alam. Warga sekitar Pegunungan Kendeng menjadi salah satu korban yang mengalami penyerobotan tanah. Menurut majalah Arena tahun terbit 2010, sejumlah calo membeli tanah warga dengan harga rendah. Mereka mengatakan membeli tanah warga untuk ditanami pohon jarak yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai biodiesel. Ternyata warga ditipu, di tanah tersebut akan berdiri pabrik semen. Kekhawatiran terhadap kerusakan sumber daya alam ikut membayangi warga. Pasalnya, selama bertahun-tahun mereka bergantung pada lahan dan air dari Pegunungan Kendeng untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Warga pun berusaha melawan dengan membentuk Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK).

Syukur dan dua orang teman sesama pegiat Arena meliput upaya eksploitasi tersebut. Selama dua minggu mereka tinggal di daerah Pegunungan Kendeng. Bukan hal mudah menjadi wartawan di daerah yang sedang bergejolak, mereka sempat diikuti intel. Karena alasan keselamatan, mereka tinggal berpindah-pindah dari satu rumah warga ke rumah lain.

***

Sebagai orang yang telah menggeluti dunia persma sejak 2007, Syukur sudah paham alasan-alasan mahasiwa memilih menjadi pegiat di persma. Ia membagi alasan tersebut ke dalam tiga kelompok. Alasan pertama, bergiat di persma sebagai jenjang karir, misalnya karena ingin menjadi wartawan profesional. Kedua, sebagai upaya pengembangan diri, misalnya untuk belajar menulis. “Yang ketiga, ada juga yang murni karena keinginannya untuk tidak diam ketika melihat penindasan. Karena berdasarkan Alquran dan sunnah, diam ketika melihat penindasan adalah selema-lemahnya iman. Dan mereka tidak mau menjadi orang yang lemah imannya,” kata Syukur sambil tersenyum.

Syukur yang mulai kuliah di UIN Sunan Kalijaga pada 2006 berkenalan dengan Arena pada tahun 2007. Ketika itu ia diajak oleh seorang senior Arena. Gayung bersambut, Syukur tertrik. Mahasiswa Fakultas Syariah itu mengakui, pada awalnya ia bergabung dengan Arena karena ingin mengembangkan kemampuan menulisnya. Lalu setelah dua tahun lebih bergabung dengan Arena, motivasinya berubah. “Setelah kenal banyak dengan para pendahulu dan membaca sejarah Arena, hati saya tergerak bahwa LPM ini harus menjadi wadah gerakan, bukan hanya mengembangkan potensi (diri sendiri) tapi juga untuk nurani. Bentuk kepedulian ketika melihat penindasan,” kata pria yang lahir pada 23 Juli 1987 itu

.Ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan di Arena hingga sekarang, Syukur memberi jawaban yang mengejutkan. “Itu yang sampai sekarang belum saya temukan, mengapa saya bertahan di Arena.” Tapi satu yang pasti, ia ingin menyiapkan generasi setelah periode kepengurusannya. “(Selain itu) Nggak muluk-muluk ingin membesarkan Arena. Hanya melakukan semaksimal mungkin. Menerbitkan buletin ya yang maksimal, webnya Arena juga bisa up date setiap hari,” katanya menambahkan.

Perlawanan Dari Balik Dinding Kaca

Dua hari kemudian saya kembali bertemu dengan Syukur. Kali ini kami bertemu di kantor Arena, di lantai satu gedung Student Center (SC) UIN Sunan Kalijaga. Saat itu sekitar pukul tujuh malam. Gedung SC yang berlantai tiga tampak ramai oleh beberapa mahasiswa yang sedang berlatih teater.

Menurut majalah Arena terbitan tahun 2008, pemusatan kantor Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di gedung SC menuai sejumlah permasalahan. Sentralisasi kegiatan ekstrakurikuler dalam satu gedung tersebut lebih dipandang para aktivis UKM sebagai upaya rektorat untuk memperkuat kontrol terhadap aktifitas mahasaiswa. Pandangan tersebut bukan tak beralasan. Berlakunya jam malam sangat membatasi aktifitas. Apalagi jika dilihat dari kaca yang difungsikan sebagai dinding depan semua kantor UKM, kantor pun jadi menyerupai aquaium. Dinding kaca itu makin menguatkan asumsi tersebut.

Luas kantor Arena sekitar 12 meter persegi, dinding depannya dari kaca. Malam itu hanya ada Syukur di kantor. Ia menunjukkan beberapa majalah dan buletin terbitan Arena. Dari dalam kantor, suara mahasiswa-mahasiswa yang berlatih teater terdengar cukup jelas. Ini sedikit mengganggu konsentrasi saya untuk membaca majalah dan buletin. Setelah puas membaca sepintas beberapa tulisan, saya berpamitan padanya. “Saya juga mau pulang kok, Mbak,” katanya. Kami pun bermaksud meninggalkan kantor bersama-sama.

Saya terkejut ketika Syukur tidak mengunci pintu kantor Arena. Ketika saya bertanya mengapa pintu tidak dikunci, Syukur menjawab sambil tersenyum. “Kuncinya kami buang. Kami nggak mau setiap akan masuk kantor harus minta kunci pada satpam, itu menyulitkan kami, padahal ini rumah kami.” Beberapa kali Arena kehilangan hard disk komputer sebagai konsekuensi dari perlawanan mereka terhadap aturan yang mengekang itu. Saya menangkap kesan, Arena ini masih akan terus melawan segala tindakan represif, dengan cara mereka.

*Tulisan ini menjadi juara dua dalam Lomba Menulis Feature Online Pekan Komunikasi 2011, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (HMIK UI)


Foto oleh : M. Naufal Fakhri


Riiiiiii…

1/
Hai, Ri! Beberapa hari yang lalu aku berbincang tentang masa kecil dengan seorang teman. Kami ngobrol sampai larut malam. Dari obrolan itu aku teringat padamu, Ri. Kamu adalah bagian dari masa kecilku, walaupun kita tak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun. Apa kabarmu sekarang?

Kita bertemu saat kelas dua sekolah dasar kalau tidak salah. Kamu siswa pindahan dari Bima. Aku masih ingat rambut panjangmu yang hitam dan ikal, kulit hitam manis dan
senyummu yang juga manis. Tawamu yang lepas selalu terdengar menyenangkan. Tawa lepas tapi tidak terbahak-bahak, tidak membuat telinga pekak.

Kita tak perlu waktu lama untuk menemukan banyak kecocokan. Kita jadi teman sebangku. Kita sama-sama suka main boneka, suka membaca dan suka bercerita. Aku bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi kalau denganmu aku jadi suka bercerita tentang banyak hal karena kau pendengar yang baik. Sangat menyenangkan bicara denganmu. Kita biasa bercerita tentang komik, film, buku, sekolah, majalah Donal Bebek kesukaan kita, atau tentang hal-hal yang pernah dan ingin kita lakukan.

Kita selalu bersama-sama di sekolah. Jam istirahat adalah waktu favorit kita. Biasanya kita beli jajan di warung pak Mono atau bu Tari. Kadang kita bermain di lapangan belakang sekolah. Lapangan dengan rumput hijau yang luas. Kita sering duduk-duduk di bawah pohon besar di tepi lapangan, sambil makan jajan dan bercerita. Di samping lapangan ada sungai yang airnya masih jernih walaupun kadang ada juga sampah-sampah yang hanyut. Suara aliran airnya terasa mendamaikan.

Ah, betapa menyenangkannya saat-saat itu, Ri! Sekolah jadi tempat yang menyenangkan. Salah satunya karena ada kamu. Itu masa-masa yang bisa dikatakan nyaris tanpa beban.

Kau anak tunggal dan sering merasa senang kalau aku bermain ke rumahmu. Aku pun senang bermain ke rumahmu. Kau punya banyak boneka (salah satunya si Inchi boneka kelinci), buku cerita, majalah dan komik. Aku sering pinjam buku-bukumu itu. Karena sering main ke rumahmu, aku jadi kenal dengan mamamu dan pembantumu. Tapi tidak terlalu kenal dengan papamu. Kelihatannya beliau orang sibuk karena aku jarang bertemu dengannya di rumahmu.

Kau juga sering main ke rumahku. Orang tua kita jadi dekat juga. Mamamu memamnggil guru mengaji yang datang seminggu sekali ke rumahmu. Mamaku minta pada mamamu supaya aku dan kakak bisa ikut kau mengaji di rumahmu. Mamamu tak keberatan. Lalu mamaku mengantarkan aku dan kakak setiap Selasa sore untuk mengaji bersama.

Ibu Halimah, guru mengaji kita, perempuan penyabar berkaca mata. Kita bertiga mengaji bergantian. Jika kakakku sedang mengaji dan kita sedang tidak mendapat giliran, kita akan naik ke atap rumahmu lewat loteng tempat menjemur pakaian. Di sana kita memandang langit senja sambil bergurau dan bercerita. Di atap rumahmu tak ada pohon atau bangunan lebih tinggi yang menghalangi pemandangan langit senja. Kita terus di sana sampai kakak menyusul ke atap dan memanggil aku atau kamu yang mengaji selanjutnya.

Kiranya sejak saat itu aku jadi suka senja. Suka cahaya halus keemasan yang menembus awan, mewarnai langit. Kadang juga ada semburat warna ungu saat senja. Ungu, Ri! Warna kesukaanku. Aku suka memandang senja di tempat-tempat yang tak terhalang pepohonan ataupun bangunan–bangunan buatan manusia, di pantai misalnya.

Apa kau juga masih suka memandang senja, Ri?

2/

Jika kepintaran diukur dari nilai-nilai rapor, aku tak pernah sepintar kau, Ri. Dari dulu kau anak pintar. Selalu menduduki ranking 2 di kelas. Sementara aku, paling cuma masuk sepuluh besar di kelas. Ketika kita “bertemu” di facebook, aku tak heran saat mengetahui sekarang kau kuliah di institut teknik terbaik di negeri ini.

Kau juga kawan yang baik, Ri. Aku ingat bagaimana kau menemaniku di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) ketika aku sakit. Aku sering sakit-sakitan, dan kau hampir selalu menemaniku di UKS. Kau rela meninggalkan jam pelajaran. Di sana pun kita bercerita tentang ini-itu. Hahaha…sepertinya kita selalu bercerita dimana-mana ya, Ri?

Kau tahu, Ri? Bercerita padamu menjadi sesuatu yang menyenangkan karena kau tak menghakimi apapun yang kuceritakan. Matamu akan sedikit melebar ketika kau agak tidak suka dengan yang kuceritakan. Kau tak pernah menggunakan kata sifat seperti “manja”, “malas”, “bodoh” dan sebagainya untuk menghakimiku. Aku pun paham sebaiknya aku mengganti topik pembicaraan ketika matamu sedikit melebar itu.

Ahai, kau bukan manusai sempurna, RI. Ada kekurangan-kekurangan diluar sisi baikmu itu. Tapi jujur saja, aku sudah tak ingat apa saja kekuranganmu. Kita juga pernah bertengkar. Lagi-lagi aku tidak ingat apa yang dulu membuat kita bertengkar. Yang pasti, persahabatan kita bukan sesuatu yang tanpa cela, walaupun kita selalu berbaikan setelah bertengkar.

3/

Perpisahan adalah ujung dari pertemuan, meskipun kadang tak berarti akhir dari segalanya. Tapi hari perpisahan itu datang juga pada kita, Ri. Kau pindah keluar kota karena dinas papamu dipindahkan ke kota lain. Saat itu kita kelas lima sekolah dasar. Hari kenaikan ke kelas enam juga menjadi hari perpisahan kita.

Aku menangis sesenggukan. Kau tak menangis, berusaha meredakan tangisku. Kau bilang kita masih bisa berkomunikasi lewat telepon atau berkirim surat. Dulu penggunaan internet belum marak seperti sekarang. Kau tahu, Ri? Sekiranya hari itu menjadi hari pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan sebuah kehilangan. Aku sedih sekali hari itu.

Setelah kau pindah kita sempat berkirim surat dan saling menelepon untuk beberapa waktu. Tapi komunikasi jarak jauh itu tak berlangsung terlalu lama. Kalau tidak salah, kita sudah tak bertukar kabar lagi saat kelas dua sekolah menengah pertama. Kita larut dalam hidup dan kesibukan masing-masing. Lambat laun aku tak lagi merindukanmu, mungkin kau juga begitu.

Komunikasi terakhir kita cuma lewat facebook, hanya saling mengucapkan selamat hari lahiir.

4/

Sekarang kita sama-sama mahasiswa tingkat akhir, Ri. Aku yakin kau pun merasakan repotnya jadi mahasiswa tingkat akhir. Ri, aku ingin bercerita padamu tentang kerepotan-kerepotan itu. Kerepotan yang kadang “lucu”.

Aku sedang berhadapan denga dua TA, Ri. Tugas Akhir “tuntutan” akademik dan Tanggung jawab Akhir di organisasiku, sebuah lembaga pers mahasiswa tingkat universitas. Sejak dulu aku suka menulis. Itu yang membuatku bergabung dengan pers kampus. Di pers kampus, tanggung jawab yang belum selesai adalah menerbitkan majalah dan menyelesaikan urusanku sebagai pemimpin bidang. TA yang kedua tak kalah beratnya, Ri. Komitmen mendatangkan tanggung jawab.

Tapi aku cuma ingin bercerita tentang TA yang pertama. Yang kedua terlalu rumit dinamikanya untuk diceritakan. Kiranya kurang pantas juga diceritakan di sini.

TA-ku tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak. Sampelnya 134 rekam medis (RM) pasien DBD anak di Kabupaten Bantul. Mengapa Kabupaten Bantul? Karena kasus DBD di Kabupaten Bantul menduduki peringat dua di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). RM itu kuambil dari sebuah rumah sakit umum di Bantul.

Jarak tempat tinggalku jauh sekali dari Bantul. Aku tinggal di Kabupaten Sleman, di Jalan Kaliurang Km 14 tepatnya. Mungkin kau agak sulit membayangkannya. Kau ingat erupsi Merapi November 2010 lalu? Tempat tinggalku termasuk dalam 20 kilometer zona bahaya itu (aku sempat mengungsi saat erupsi). Kau pernah dengar Pantai Parangtritis? Nah, pantai itu bagian dari Kabupaten Bantul. Dari dekat gunung sampai dekat pantai. Bayangkanlah sendiri. Sejauh itulah kiranya tempat tinggalku dari rumah sakit tempat pengambilan RM.

Sudah pasti menempuh perjalanan jauh itu melelahkan. Tapi lelah fisik tak seberapa jika dibandingkan dengan lelah batin. Birokrasinya ruwet ketika mengurus perizinan penelitian. Menemui bapak A, kata bapak A ketemu dulu sama ibu B, ibu B bilang ke bagian X. Ketika perizinan yang berbelit itu akhirnya tuntas, bukan berarti semuanya sudah beres.

Beberapa tulisan di kertas-kertas RM membuatku memuji tulisan anak kelas satu sekolah dasar yang baru belajar menulis. Meskpun tidak semua, tapi sebagian tulisan itu sangat buruk. Coba kau lihat ini, Ri. Ini bukan tullisan, Ri! Ini lebih menyerupai sekumpulan cacing yang kesetanan menari ketika dengar musik hip hop.

Kemudian ada hal lain yang juga “lucu”, Ri. Pada salah satu RM, di halaman pertama tertulis pasien berusia 12 tahun dan masuk rumah sakit (RS) tanggal, bulan dan tahun sekian. Lalu pada halaman kedua, tertulis pasien berusia sembilan tahun, padahal tanggal, bulan dan tahun masuk RS-nya sama dengan yang dituliskan di halaman pertama. Jadi, yang mana yang harus kupercaya, Ri? Lembar pertama atau lembar kedua? Kau bingung, Ri? Sama…hehehehe :D

5/

Aku lelah, Ri. Dua TA itu itu benar-benar gila. Aku sendiri tak tahu apa yang membuatku masih punya kekuatan untuk menjalani keduanya. Walaupun kadang kekuatan itu surut karena beberapa hal. Dan sekarang aku lelah sekali, Ri. Sangat lelah…

Apalagi aku baru menyadari aku melakukan kesalahan di TA yang pertama. Ada salah pengertian antara aku dan dosen pembimbingku. Ternyata dosen pembimbingku menginginkan setiap gejala yang muncul pada pasien dicatat perharinya. Misalkan pada hari pertama masuk RS ada gejala demam, mual, muntah dan sebagainya. Selama ini aku tidak mencatat munculnya gejala perhari. Artinya, catatanku terhadap RM-RM yang kemarin tak lengkap, tidak bisa digunakan. Aku harus memulainya dari nol, Ri…

Friends are power. Tapi tidak semua teman bisa jadi kekuatan, Ri. Apalagi ketika orang yang selama ini kuanggap teman ternyata tidak seperti anggapanku itu. Kecewa sekali rasanya. Lalu ada juga yang ketika kuminta untuk tidak membicarakan TA, dia malah berkomentar “Bolak-balik Bantul ma deket. Aku yang bolak-balik ke luar kota aja biasa aja.” Kesal rasanya dengar komentar macam itu ketika aku sedang tak ingin bicarakan TA. Tahu apa dia soal birokrasi di sana, soal berkendara naik motor dibawah siraman hujan atau terik matahari, soal catatan RM yang sia-sia, tentang kumpulan cacing yang menari di kertas RM, tentang memulai mencatat RM dari nol? Beberapa orang memang cuma bisa jadi komentator yang dangkal, komentataor yang bahkan tak tahu apa-apa tentang yg dikomentarinya.

Akhir-akhir ini aku juga sedang bermasalah dengan orang yang “menghakimiku” tanpa benar-benar mengenalku. Dia mengocehkan hal-hal buruk tentangku di jejaring sosial. Padahal kami tak saling kenal. Lucu, kan? Dia hanya dengar cerita tentangku dari temannya yang mengenalku, lalu merasa berhak menjelek-jelekkanku di jejaring sosial. Sikapnya itu menunjukkan kalau dia sama sekali tak bersikap adil sejak dari pikirannya.

Aku tak suka ribut-ribut dengan orang. Aku mendiamkan ocehan buruknya itu. Tapi satu hal yang perlu dicatat, aku pasti menghardiknya jika dia mengulangi perbuatan itu lagi. Teman-temanku (kali ini mereka yang benar-benar teman) mengajarkanku untuk tidak diam pada orang-orang yang “menekanku”. Dan mereka benar, ada saatnya kita harus melawan.

Satu lagi, Ri. Ada orang-orang yang membicarakanku di belakang. Mereka “main belakang” tentang dua tanggung jawab yang tak bisa kuceritakan secara detail di sini. Aku tak suka dibicarakan di belakang, Ri. Aku lebih terima orang bicara di depanku. Seburuk apapun itu, rasanya jauh lebih baik daripada dibicarakan di belakang. Apalagi bukan cuma satu orang yang begitu. Seperti diserang dua sisi dari belakang.

Aku semakin lelah, Ri…

6/

Kadang terdengar samar, kadang sangat jelas

dan suara itu terus bergaung

Namun suara hanyalah gelombang

sedangkan jarak ialah sesuatu yang rumit.

Jarak selalu ada tanpa perlu dicipta

Ia bisa membentang lebih lebar dari jurang manapun

Lalu waktu adalah arsitek

yang gagal membangun jembatan penghubung

7/

Aku tidak sedang ingin mengeluh, Ri. Aku hanya menuliskan semuanya supaya aku lebih mudah memahami dan memaknai keruwetan itu. Kadang menulis itu seperti mengurai benang kusut, beberapa hal jadi lebih mudah dimengerti jika sudah dituliskan. Karena tulisan bisa dibaca ulang. Sementara obrolan dengan orang tak bisa diputar ulang kecuali kau merekamnya. Sedangkan aku bukan orang yang suka mendengarkan rekaman percakapan, perlu mencerna ulang dialog-dialog yang sudah diucapkan. Tidak praktis dan makin tidak nyaman jika kualitas recordernya buruk.

Hidup kita tidak hanya hari ini, Ri. Kukira itu alasan yang membuat kita harus belajar setiap harinya. Semua yang kuceritakan itu kuanggap sebagai pelajaran tentang kesabaran. Aku tak usah menangis lagi, tak perlu juga mengharapkan orang lain akan menjadi sangat mengerti. Yang penting aku berusaha menyelesaikan semuanya semampuku, sebaik yang bias kulakukan. Itu saja…

Menurutku kita akan menjadi manusia yang lebih baik jika kita terus belajar. Seperti yang kubilang tadi, belajar memahami dan memaknai hidup ini. Semua perlu dipahami dan dimaknai karena Tuhan bicara dalam metafora, Ri. Mungkin itu satu-satunya bahasa-Nya.

Bisa saja sekarang aku berpendapat bahwa masa kecil adalah masa-masa paling bahagia, nyaris tanpa beban. Tapi boleh jadi dua puluh tahun lagi aku akan berpendapat bahwa masa-masa sebagai mahasiswa adalah masa paling bahagia. Who knows? Maka dari itu, aku harus mensyukuri (dan menikmati) semua ini, termasuk dua TA itu. Karena masa-masa ini tak akan terulang lagi…

8/

Mungkin suatu hari nanti ita akan bertemu lagi, Ri. Tapi mungkin juga tidak. Terima kasih, Ri. Terima kasih pernah mewarnai masa kecilku dengan warna ungu. Warna yang kusuka…