Jumat, 23 Oktober 2009

(Lagi-Lagi) Perempuan, Cantik dan Media

Berbicara tentang cantik dan media seperti tidak pernah ada habisnya. Sudah sejak lama image cantik yang tercipta sering dikaitkan dengan peran media. Dalam buku Mitos Kecantikan telah disinggung keterkaitan antara media dan perspektif cantik. Tapi aku tidak bermaksud membahasnya berdasarkan teori sosial atau teori-teori lain. Aku bukan orang yang ahli dalam analisis sosial, cuma penulis payah yang mencoba jujur terhadap apa yang kulihat selama ini.

Peristiwa itu sudah agak lama, sekitar dua tahun yang lalu. Entah lah, standar setiap orang berbeda untuk menilai waktu. Ada yang merasa dua tahun itu lama, ada pula yang merasa dua tahun bagaikan mengerjapkan mata, sangat singkat. Terlepas dari subyektifitas itu, peristiwa yang kusebutkan tadi selalu menggelitik bila dikenang kembali, antara geli dan ironi.

Waktu itu aku sedang mengikuti kegiatan malam keakraban yang diadakan oleh fakultasku. Tujuannya tidak rumit, supaya mahasiswa baru bisa saling mengenal lebih baik. Kegiatan malam keakraban diadakan di hotel yang berlokasi di Baturaden, Purwokerto. Aku, Desi dan beberapa orang kawanku menempati kamar yang sama. Selama menginap dalam satu kamar, aku memperhatikan Desi selalu mengeluhkan bentuk badannya yang berisi. “Gendut banget sich,” keluhnya ketika bercermin. Lucunya, kata-kata itu meluncur dari mulutnya hampir setiap kali ia bercermin.

Tidak berbeda dengan Desi, seorang teman bernama Flo pun sering mengeluhkan hal yang serupa. “Tika, aku gendut nggak sich?” Flo bertanya untuk yang entah kesekian kalinya, rasanya aku sering mendengar dia bertanya seperti itu. Menurutku tubuhnya belum bisa disebut gemuk, lebih tepat disebut berisi.
Flo kadang kesal karena tubuhnya yang berisi sering dijadikan bahan lelucon oleh kawan-kawan. Kawan-kawan menjulukinya kontestan Ninja Warrior, sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta. Mereka tidak bermaksud jahat, hanya sekadar bergurau. Apalagi Flo dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah marah.

Agaknya hal ini menarik perhatianku, perempuan mudah sekali risau dengan bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan dan hal-hal bersifat fisik lainnya. Image cantik yang secara tidak langsung diciptakan oleh media membuat banyak perempuan risau dengan penampilan mereka. Media massa yang kerap menampilkan perempuan bertubuh ramping dan berkulit putih membuat seakan-akan perempuan bisa disebut cantik bila memiliki kriteria itu. Bahkan di televisi, perempuan gendut hanya mendapat peran lucu-lucuan. Dan tampaknya, image tersebut membuat sebagian perempuan yang tidak merasa ramping dan berkulit putih menjadi gusar.

Yang menarik, harian Kompas 6 September 2009 menuturkan pernyataan seorang desainer poster bernama Michael Tju. Michael Tju mengaku, sentuhan ulang atau yang biasa disebut retouch bisa membuat seseorang terkesan langsing. Michael menegaskan bahwa tidak ada poster ataupun iklan yang tidak mengalami retouch. “Tak ada poster film atau iklan yang tidak di-retouch. Bahkan iklan yang hanya menampilkan tangan saja juga di-retouch”

Dengan retouch, beberapa bagian tubuh bisa diubah sehingga tampak ideal. Misalnya,mengurangi bagian paha, betis atau lengan yang tampak berlemak. Terkadang juga menambah bagian payudara dan pantat agar tampak lebih berisi. Jadi, dari pernyataan Michael dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa belum tentu tubuh model-model dalam iklan benar-benar tampak sekurus itu.
Aku mengamati fenomena ini dengan agak jengah. Aku tidak menggunakan suatu metodologi ilmiah tertentu, hanya berdasar pengamatan dari peristiwa sehari-hari saja. Tidak masalah bila banyak yang tidak sependapat atau bahkan menyangkal. Dari yang aku amati, sebagian besar teman-temanku mulai mengeluh apabila tubuh mereka sudah tampak berisi. Padahal aku sangat yakin bahwa mereka belum bisa dikatakan overweight apalagi obesitas.

Yang kudapatkan dari bangku kuliah, digunakan Indeks Massa Tubuh untuk mengukur status gizi. Hemat saya, Indeks Massa Tubuh digunakan untuk mengklasifikasikan tubuh seseorang dalam golongan kurus, normal atau gemuk. Indeks Massa Tubuh normal adalah 18,5-25,0. Dikatakan overweight bila Indeks Massa Tubuh lebih dari 25,0. Indeks Massa Tubuh sendiri dapat diukur dengan cara berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter yang dikuadratkan.
Wajar apabila merasa risau dengan berat badan yang sudah overweight. Dikarenakan obesitas menjadi faktor resiko berbagai penyakit yang sering disebut silent killer seperti diabetes melitus dan penyakit karidiovaskuler (penyakit jantung dan pembuluh darah).

Yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit perempuan yang mengalami eating disorder seperti anoreksia dan bulimia hanya karena mereka ingin punya tubuh kurus seperti yang dicitrakan media. Bahkan berawal dari anoreksia dan bulimia, ada yang sampai menyebabkan kematian.

Sia-sia kah mati karena ingin terlihat cantik? Entah, aku tidak berwenang untuk menjawab ataupun menghakiminya. Kurang lebih Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “seorang terpelajar harus juga beriskap adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Aku rasa itu yang membuatku tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Aku takut jawabanku yang subyektif tidak cukup adil bagi orang-orang yang mungkin mengalaminya.

Media yang turut berperan menciptakan image cantik cenderung berubah dalam pencipataan image tersebut. Contohnya pada tahun 1970an, image cantik yang dicitrakan oleh media adalah permpuan dengan tubuh berisi. Kemudian citra cantik beralih menjadi perempuan dengan tubuh kurus pada tahun 1990an hingga sekarang.

Pada era informasi seperti sekarang ini, rasanya nyaris tidak mungkin bagi kita untuk lepas dari media. Media punya signifikansi, dan informasi yang kita peroleh dari media seringkali tidak terlepas dari signifikansi tersebut. Sulit juga untuk secara mutlak mengkambinghitamkan media. Bijak menyikapi media mungkin menjadi sebuah solusi.

Seorang kawan pernah menulis dalam facebook-nya, yang isinya kurang lebih : “Hai perempuan, cantikmu tidak terbatas hanya pada kulitmu”. Aku tidak bisa memaksa orang-orang untuk sependapat dengan pernyataan itu. Setiap orang mempunyai pemikiran dan pendapatnya masing-masing. Satu harapanku, semoga alasan logis lah yang mendasari pemikiran dan pendapat dalam menyikapi fenomena yang agaknya mulai mengkhawatirkan ini.