Minggu, 10 Januari 2010

Dari Lautan Hingga Kaliurang













Christian Awuy tak pernah menduga kehidupannya akan menjadi seperti sekarang. Karirnya di bidang pelayaran yang ia geluti selama enam belas tahun sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang tengah ia tekuni sekarang.

Mariyadi, petugas Taman Wisata Kaliurang memberi rekomendasi kepada kami. “Kalau mau dapat banyak informasi tentang wisma atau vila di Kaliurang, coba minta informasi sama pak Christian Awuy. “ Lebih lanjut, pria berkumis tebal dengan rambut yang mulai beruban itu menjelaskan di mana kami bisa bertemu Christian Awuy. Ia bisa ditemui di wisma yang dikelolanya, Vogel Youth Hostel.

Kata Mariyadi lagi, selain sebagai pengelola Vogel, Christian Awuy juga ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang (ASPEK). Letak Vogel tidak jauh dari Taman Wisata Kaliurang, sekitar delapan meter ke selatan. Bangunan hostel itu bersebelahan dengan warung Poci, warung kopi yang ramai dikunjungi saat malam hari.

Hostel itu dibangun dengan arsitektur gaya Belanda, dengan lebar pintu dan jendela sekitar satu meter serta dinding yang tebalnya sekira 30 sentimeter. Namun, unsur-unsur Keraton Jogjakarta juga nampak menghiasi Vogel. Terutama pada kayu-kayu jendela dan pintu yang dicat hijau-kuning. Sangat khas Keraton Jogjakarta. Luas tanahnya kurang lebih 3000 meter persegi, dengan luas bangunan antara 600 meter persegi. Hostel juga dilengkapi dengan restoran yang menyediakan fasillitas hot spot area.

Kami menemui Christian Awuy di ruang kerjanya. Ia tengah duduk di balik meja kerja sambil menekuri setumpuk kertas dihadapannya. Ruangan itu berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 4x4 meter, terletak di dekat pintu samping Vogel. Berbagai barang menyesaki ruang kerja Awuy. Ada meja kerja di sudut ruangan, dipenuhi dengan banyak plakat dan tumpukan kertas. Dua buah Computer Personal Unit (CPU) ikut mengisi ruangan, satu di samping meja kerja, satu lagi di sudut lain. Tiga kursi warna abu-abu dan sebuah meja panjang yang digunakan untuk menerima tamu terletak di depan meja kerja Awuy.

Plakat-plakat, sertifikat, penghargaan dan foto yang mengisahkan masa lalu serta perjalanan karir Awuy mendominasi dinding ruang kerjanya. Dua sertifikat yang dianugrahkan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) menjadi bukti prestasi Auwey.

Awuy meluangkan waktunya untuk menerima kami. Ia berpakaian serba hitam. Mulai dari celana panjang, kemeja lengan panjang, topi, juga sepatu. Kulitnya yang putih nampak kontras dengan pakaian serba hitamnya. Perjalanan waktu yang dilalui pria asal Sulawesi itu menyisakan guratan keriput halus di wajahnya.

Awuy menuturkan pengalaman-pengalaman yang telah ia lalui sambil duduk bersandar di punggung kursi abu-abu. Jabatannya sebagai ketua ASPEK tidak menyurutkan usahanya untuk tetap mengelola Vogel, yang telah ia kelola sejak tahun 1983. Pria berusia 63 tahun itu mengaku tidak pernah menduga bahwa kehidupannya akan seperti sekarang, menjadi pengelola hostel dan berkecimpung di dunia pariwisata pada umumnya.

“Padahal dulu saya seorang pelaut. Saya berkecimpung di pelayaran selama 16 tahun. Sudah mengelilingi banyak negara di lima benua,” katanya.

Perkenalannya dengan dunia pariwisata berawal secara tidak terduga pada 1983. Ia memutuskan untuk berhenti menjadi pelaut setelah tiga kali mengalami kecelakaan kapal. “ Saya pernah tenggelam tiga kali di laut karena kapal yang saya tumpangi karam. Kecelakaan terakhir terjadi ketika saya berlayar ke Filipina. Saya bersama sekitar 20 orang awak kapal lainnya terombang-ambing selama 46 jam di perairan Filipina. Sampai akhirnya diselamatkan oleh kapal Amerika dan dibawa ke rumah sakit di Manila.”

Kecelakaan terakhir itu membuatnya berpikir untuk menyudahi karir sebagai pelaut. Hal itu diperkuat dengan pertemuan secara kebetulan dengan peramal Cina tua di Glodok, Jakarta. Saat itu ia sedang berjalan-jalan, tiba-tiba seorang peramal tua berjenggot panjang memanggilnya. Awuy menghampiri si peramal. Sambil memeriksa garis tangan Auwey, peramal itu mengatakan sebaiknya Awuy berhenti dari pekerjaannya. Jika ia tidak berhenti, ia bisa mengalami kecelakaan yang lebih parah. Awuy terkejut. Ia tak habis pikir bagaimana peramal itu mengetahui kecelakaan-kecelakaan yang pernah dialaminya.

Kebetulan, kakak perempuannya yang tinggal di Jogjakarta menawarkan pekerjaan di bagian administrasi sebuah perusahaan konstruksi milik suaminya. Awuy menyetujui tawaran itu. Singkat cerita, ketika perusahaan konstruksi itu membangun bendungan Kalikuning, Awuy ditugaskan mengawasi pembangunan tersebut. Selama menjadi pengawas, dia difasilitasi kamar di Hotel Joyo, yang jaraknya sekitar 8 meter dari Vogel. Dari situ, ia sering bertemu dengan gadis keturunan Jepang bernama AM Masako, kasir restoran di Vogel yang kelak menjadi istrinya.

Pria kelahiran Manado itu juga menuturkan latar belakang kepemilikan Vogel. Vogel dibangun pada masa pemerintah kolonial Belanda. Memasuki era penjajahan Jepang, ada seorang tentara Jepang bernama Yukithosi Tanaka yang dikirim ke Yogyakarta. Agaknya Tanaka berbeda dengan tentara-tentara Jepang lainnya. Ia jatuh cinta pada Indonesia. Bahkan, ia berbalik membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kelak Tanaka pun mengganti namanya menjadi Yukithosi Tanaka Abdul Rosid sebagai wujud kecintaannya pada negeri ini. Mungkin ia seperti Laksamana Maeda, yang menyediakan rumahnya untuk tempat pengetikan naskah proklamasi. Mereka sama-sama berperan dalam berdirinya republik ini.

Selepas kemerdekaan Indonesia, Radjiman selaku perdana menteri pertama Indonesia memberi Tanaka sebuah vila. Sebagai bentuk terima kasihnya kepada Tanaka yang telah berperan menyokong lahirnya negara ini. Radjiman berpesan, vila itu hanya boleh dikelola oleh Tanaka dan keluarganya. Vila tersebut bernama Vogel.

Setelah menikah dengan Masako,Tanaka selaku ayah mertua Awuy memintanya melanjutkan pengelolaan Vogel Youth Hostel. Awuy menyanggupi. Apalagi, setahun setelah pernikahannya, perusahaan konstruksi tempat ia bekerja bangkrut.

Awuy menekuni profesinya mengelola Vogel. Karena Vogel adalah bangunan berarsitektur Belanda, ia memfokuskan segmen pasarnya pada orang asing. “Orang asing lebih suka bangunan yang tua dan unik. Kalau orang kita malah takut dengan bangunan tua. Takut penampakkan katanya,” tuturnya sambil tersenyum.

Untuk mendongkrak promosi wisata Kaliurang, Awuy berinisiatif menciptakan “sensasi”. Ia membuat ampyang ( sejenis makianan tradisional) sepanjang 100 meter, jadah tempe berdiameter lima meter dan wajik seberat satu ton. Usaha itu diganjar dengan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia.

Dengan promosinya yang telah merambah segmen internasional, Vogel telah menjaring banyak turis asing, yang tentunya berimbas pada penerimaan devisa Negara. “Sejak tahun 1983 sampai sekarang, Vogel pernah dijadikan tempat menginap sekitar 700 ribu wisatawan asing.” Namun, Awuy menyangkan pemerintah kurang memperhatikan bangunan-bangunan tua seperti Vogel.

Walaupun wawancara sempat terpotong beberapa kali karena ada oang-orang yang berkepentingan untuk bertemu Awuy, ia tetap menerima kami dengan senyum yang sesekali terukir di wajahnya. Bebrapa kali dia meminta maaf dengan sopan bila terpaksa harus meninggalkan kami sejenak untuk menemui orang lain.

Awuy pun menuturkan, ia berharap salah satu dari dua orang putranya berkenan meneruskan pengelolaan Vogel. Ia juga berkeinginan untuk mempertahankan bentuk asli bangunan hostel itu. “Vogel ini sudah berdiri sejak zaman Belanda, saya dan keluarga tetap ingin mempertahankan keaslian bangunannya,” tuturnya mengakhiri percakapan siang itu.


Vogel Youth Hostel yang sedang digunakan oleh mahasiswa UPN Yogyakarta


Reportase bersama Sulistyo Wijanarko
Foto-foto oleh Ikhwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar