Telah berdiri ribuan benteng
di dalamnya dingin, pengap lagi gelap
cahaya senja tak diizinkan masuk
Antar benteng tak ada jembatan penghubung
arsiteknya habis akal
semua komunikasi selalu patah
Jauh di atas sana
malaikat bersayap satu tertawa
tawanya bergema diantara awan-awan hitam
tak hirau ia pada darah
yang menetes dari ujung-ujung sayap satunya
Maka bertanya lah pada hati masing-masing
mengapa membangun benteng yang begitu angkuh...
Kamis, 29 Juli 2010
Minggu, 11 Juli 2010
Orang Miskin (Masih) Dilarang Sakit
“Kemiskinan adalah musuh nomor satu manusia. Satu kemiskinan dapat menyebabkan sejuta bahaya.” (Henrik Ibsen)
Ini karikatur yang saya buat untuk mengkritik sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Memang bukan gambar yang bagus, tapi ini hal yang mungkin terjadi pada orang miskin, mati sebelum mendapat layanan kesehatan!

Era otonomi daerah harus dimaknai sebagai upaya mendekatkan pelayanan oleh pemerintah kepada warga negara. Sayangnya otonomi daerah yang telah berlangsung belum memberikan perubahan yang signifikan. World Development Report 2004 menyatakan bahwa layanan publik di Indonesia sulit diakses orang miskin dan hal ini memicu terjadinya ekonomi biaya tinggi (high cost economy).
Sudah menjadi kewajiban negara untuk mengambil peran sentral dalam memberi pelayanan sosial kepada rakyat. Konsep klasik pelayanan sosial terdiri atas lima hal dasar : kesehatan, pendidikan, perumahan, jaminan sosial dan pekerjaan sosial. Welfare state adalah sebutan bagi peran sentral negara terhadap lima hal tersebut.
Kesehatan menjadi salah satu unsur welfare state yang harus dipenuhi. Berbicara tentang pelayanan kesehatan, nampaknya orang miskin berada di posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka ingin sembuh dari penyakitnya. Di sisi lain, untuk sembuh perlu biaya yang tidak sedikit.
Banyak daerah yang masih membebankan tarif tinggi untuk layanan kesehatan. Bahkan ada daerah-daerah yang menjadikan pelayanan kesehatan sebgai sumber terbesar pendapatan asli daerah (PAD). Di lingkup DIY sendiri hal itu masih terjadi. Berikut ini data dari Institute for Development and Economics Analysis mengenai analisis APBD kabupaten dan kota di Yogyakarta 2006.

Asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin (Askeskin) diharapkan menjadi jaring penyelamat bagi penduduk miskin di kala sakit. Namun, belum semua penduduk miskin di DIY merasakan pelayanan program kesehatan tersebut.

Jika orang miskin sakit, ia akan menghadapi tiga persoalan. Pertama, kemana akan dibawa. Biaya di Puskesmas memang murah. Namun, tidak semua penyakit dapat ditangani karena keterbatasan peralatan medis. Rujuk ke rumah sakit tentunya akan memakan biaya lebih banyak. Kedua, jika harus ada pemeriksaan tambahan, sudah pasti ini akan semakin menguras kantong. Pemeriksaan tambahan bukan sesuatu yang gratis. Ketiga, biaya obat-obatan. Biaya obat-obatan selalu berkorelasi dengan banyaknya obat yang diresepkan dokter.
Lengkap sudah penderitaan orang miskin. Sakit yang diderita, mahalnya pelayanan kesehatan, belum lagi kualitas pelayanan kesehatan. Nampaknya tidak berlebihan bila Eko Prasetyo menulis buku berjudul Orang Miskin Dilarang Sakit. Realita yang terjadi membuat seolah orang miskin memang dilarang sakit. Wiji Thukul mengabadikan realita tersebut dalam puisi Suti :
Suti tidak pergi kerja
Pucat ia duduk dekat ambennya
Suti di rumah saja
Tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
Batuknya memburu
Dahaknya berdarah
Tak ada biaya
Suti kusut masai
Di benaknya menggelegar suara mesin
Kuyu matanya membayangkan
Buruh-buruh yang berangkat pagi
Pulang petang
Hidup pas-pasan
Gaji kurang
Dicekik kebutuhan
Suti meraba wajahnya sendiri
Tubuhnya makin susut saja
Makin kurus menonjol tulang pipinya
Loyo tenaganya
Bertahun-tahun dihisap kerja
Suti batuk-batuk lagi
Ia ingat kawannya
Sri yang mati
Karena rusak paru-parunya
Suti meludah
Dan lagi-lagi darah
Suti memejamkan mata
Suara mesin kembali menggerumuh
Bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
Tahu mereka dibayar murah
Suti meludah
Dan lagi-lagi darah
Suti merenungi resep dokter
Tak ada uang
Tak ada obat
Kemiskinan bukan hanya deretan angka di tabel-tabel terbitan Biro Pusat Statistik. Ia adalah kenyataan yang hidup di sekitar!
Ini karikatur yang saya buat untuk mengkritik sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Memang bukan gambar yang bagus, tapi ini hal yang mungkin terjadi pada orang miskin, mati sebelum mendapat layanan kesehatan!

Era otonomi daerah harus dimaknai sebagai upaya mendekatkan pelayanan oleh pemerintah kepada warga negara. Sayangnya otonomi daerah yang telah berlangsung belum memberikan perubahan yang signifikan. World Development Report 2004 menyatakan bahwa layanan publik di Indonesia sulit diakses orang miskin dan hal ini memicu terjadinya ekonomi biaya tinggi (high cost economy).
Sudah menjadi kewajiban negara untuk mengambil peran sentral dalam memberi pelayanan sosial kepada rakyat. Konsep klasik pelayanan sosial terdiri atas lima hal dasar : kesehatan, pendidikan, perumahan, jaminan sosial dan pekerjaan sosial. Welfare state adalah sebutan bagi peran sentral negara terhadap lima hal tersebut.
Kesehatan menjadi salah satu unsur welfare state yang harus dipenuhi. Berbicara tentang pelayanan kesehatan, nampaknya orang miskin berada di posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka ingin sembuh dari penyakitnya. Di sisi lain, untuk sembuh perlu biaya yang tidak sedikit.
Banyak daerah yang masih membebankan tarif tinggi untuk layanan kesehatan. Bahkan ada daerah-daerah yang menjadikan pelayanan kesehatan sebgai sumber terbesar pendapatan asli daerah (PAD). Di lingkup DIY sendiri hal itu masih terjadi. Berikut ini data dari Institute for Development and Economics Analysis mengenai analisis APBD kabupaten dan kota di Yogyakarta 2006.
Asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin (Askeskin) diharapkan menjadi jaring penyelamat bagi penduduk miskin di kala sakit. Namun, belum semua penduduk miskin di DIY merasakan pelayanan program kesehatan tersebut.

Jika orang miskin sakit, ia akan menghadapi tiga persoalan. Pertama, kemana akan dibawa. Biaya di Puskesmas memang murah. Namun, tidak semua penyakit dapat ditangani karena keterbatasan peralatan medis. Rujuk ke rumah sakit tentunya akan memakan biaya lebih banyak. Kedua, jika harus ada pemeriksaan tambahan, sudah pasti ini akan semakin menguras kantong. Pemeriksaan tambahan bukan sesuatu yang gratis. Ketiga, biaya obat-obatan. Biaya obat-obatan selalu berkorelasi dengan banyaknya obat yang diresepkan dokter.
Lengkap sudah penderitaan orang miskin. Sakit yang diderita, mahalnya pelayanan kesehatan, belum lagi kualitas pelayanan kesehatan. Nampaknya tidak berlebihan bila Eko Prasetyo menulis buku berjudul Orang Miskin Dilarang Sakit. Realita yang terjadi membuat seolah orang miskin memang dilarang sakit. Wiji Thukul mengabadikan realita tersebut dalam puisi Suti :
Suti tidak pergi kerja
Pucat ia duduk dekat ambennya
Suti di rumah saja
Tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
Batuknya memburu
Dahaknya berdarah
Tak ada biaya
Suti kusut masai
Di benaknya menggelegar suara mesin
Kuyu matanya membayangkan
Buruh-buruh yang berangkat pagi
Pulang petang
Hidup pas-pasan
Gaji kurang
Dicekik kebutuhan
Suti meraba wajahnya sendiri
Tubuhnya makin susut saja
Makin kurus menonjol tulang pipinya
Loyo tenaganya
Bertahun-tahun dihisap kerja
Suti batuk-batuk lagi
Ia ingat kawannya
Sri yang mati
Karena rusak paru-parunya
Suti meludah
Dan lagi-lagi darah
Suti memejamkan mata
Suara mesin kembali menggerumuh
Bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
Tahu mereka dibayar murah
Suti meludah
Dan lagi-lagi darah
Suti merenungi resep dokter
Tak ada uang
Tak ada obat
Kemiskinan bukan hanya deretan angka di tabel-tabel terbitan Biro Pusat Statistik. Ia adalah kenyataan yang hidup di sekitar!
Rabu, 23 Juni 2010
Jejak-Jejak Pengabdian
Saya kuliah di fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta. Sudah menginjak semester enam sekarang. Banyak hal bisa saya ceritakan tentang kampus dan kehidupan saya sebagai mahasiswa. Salah satunya tentang dosen.
Cerita tentang dosen dapat menjurus ke berbagai arah. Mulai dari dosen yang killer, ganteng, baik hati, murah nilai dan sebagainya. Tetapi cerita tentang dosen Ilmu Kedokteran Jiwa di kampus saya agaknya lain dan mungkin bukan sesuatu yang biasa terjadi.
Salah satu kegiatan belajar-mengajar di kampus saya adalah kuliah pakar. Disebut kuliah pakar karena pemberi materi kuliah adalah seorang pakar yang ahli di bidangnya. Dosen yang mengajar sangat beragam latar belakangnya. Mulai dari profesor, dokter spesialis, sampai master psikologi.
Sselasa, 8 Juni 2010 saya mengikuti kuliah pakar Ilmu Kedokteran Jiwa. Topiknya tentang kesehatan jiwa pada orang usia lanjut. Dokter Prajitno Siswowijoto, seorang dokter spesialis jiwa yang mengisi kuliah pakar siang itu. Ia juga menjabat sebagai kepala Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa di fakultas saya. Yang menarik, usianya 79 tahun, hampir kepala delapan!

Tak dapat dipungkiri bahwa usia membatasi aktifitas manusia, terutama usia tua. Suara dokter Prajit serak saat bicara, hal yang lumrah pada usia lanjut. Namun, semangat mengajarnya tak kalah dengan yang lebih muda. Selama sekitar satu jam lebih dokter Prajit mengajar sambil berdiri di dekat meja dosen. Tangan kanannya menggenggam erat microphone. Sesekali ia mengacungkan tangan kirinya ketika berbicara. Gaya itu mengingatkan saya pada Bung Tomo ketika berteriak ”merdeka atau mati” saat mengobarkan semangat rakyat Surabaya pada peristiwa 10 November, kejadian bersejarah yang kini diperingati sebagai hari pahlawan.
Badannya kurus dengan tinggi sekira 160 senti meter. Punggungnya sedikit bungkuk. Kult sawo matang yang membungkus tubuhnya telah keriput di banyak tempat. Kesan Islami terpancar dari penampilannya : kopiah hitam, baju koko lengan panjang warna coklat muda, celana panjang putih. Rambut tipis beruban tampak menyembul dari bagian kepala yang tidak tertutup kopiah. Kumisnya yang keabuan terlihst senada dengan warna rambut berubannya.
”Sholat itu ndak boleh ditinggalkan,” kata dokter Prajit. Ia sering menyelipkan ajaran-ajaran Islam di sela-sela penyampaian materi. Orang tua biasanya suka menasihati anak-anak muda, dokter Prajit pun begitu. Ia menasihati mahasiswanya untuk rajin belajar.
Sesekali senyum ompong terukir di wajahnya ketika ia mencoba bercanda dengan mahasiswa, walaupun tak banyak mahasiswa yang menghadiri kuliahnya. Dari sekira 200 mahasiswa yang mengambil blok Kesehatan Usia Lanjut, hanya sekitar 50 mahasiswa yang menghadiri kuliahnya. Sudah tentu ruang kelas berkapasitas sekira 260 mahasiswa dengan model susunan kursi seperti gedung teater tampak lengang.
Kuliah dokter Prajit sepertinya tidak populer di kalangan mahasiswa. Maklum, ia tidak pernah menggunakan slide presentasi dalam mengajar. Dia hanya membagikan hand out sebelum memulai kuliah. Hand out-nya kadang diketik dengan mesin tik, bukan dengan komputer. Ditambah lagi suara seraknya yang terkadang sulit dipahami membuat mahasiswa berpikir ulang sebelum menghadiri kuliahnya.
Saya pernah berpapasan dengan dokter Prajit di tempat parkir. Saya takjub melihatnya menyetir sendiri mobil sedan toyota hijau yang tampak sudah berumur. Menurut penuturan seorang teman yang bernama Hilmi, dokter Prajit membeli mobil itu dengan penghasilannya tidak lama setelah ia menjadi dokter. Tapi Hilmi tak tahu pasti tahun berapa dokter Prajit membeli mobilnya. Sepertinya bagi dokter Prajit mobil itu punya arti yang tak ternilai.
Saya yakin dokter Prajit bukan orang yang berkekurangan. Menurut pengakuannya ia pernah menjabat sebagai kepala rumah sakit jiwa. Sudah tentu, uang bukan tujuan utama untuk tetap mengajar di usia senjanya. Saya kira, keinginan mengabdi pada dunia pendidikan kedokteran yang membuatnya masih bertahan mengajar.
Ketika usia tua tak menghentikan seseorang untuk terus mengabdi, ada kah pengabdian itu mengenal batas? Apakah ia mengenal kata ”cukup”?
Cerita tentang dosen dapat menjurus ke berbagai arah. Mulai dari dosen yang killer, ganteng, baik hati, murah nilai dan sebagainya. Tetapi cerita tentang dosen Ilmu Kedokteran Jiwa di kampus saya agaknya lain dan mungkin bukan sesuatu yang biasa terjadi.
Salah satu kegiatan belajar-mengajar di kampus saya adalah kuliah pakar. Disebut kuliah pakar karena pemberi materi kuliah adalah seorang pakar yang ahli di bidangnya. Dosen yang mengajar sangat beragam latar belakangnya. Mulai dari profesor, dokter spesialis, sampai master psikologi.
Sselasa, 8 Juni 2010 saya mengikuti kuliah pakar Ilmu Kedokteran Jiwa. Topiknya tentang kesehatan jiwa pada orang usia lanjut. Dokter Prajitno Siswowijoto, seorang dokter spesialis jiwa yang mengisi kuliah pakar siang itu. Ia juga menjabat sebagai kepala Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa di fakultas saya. Yang menarik, usianya 79 tahun, hampir kepala delapan!

Tak dapat dipungkiri bahwa usia membatasi aktifitas manusia, terutama usia tua. Suara dokter Prajit serak saat bicara, hal yang lumrah pada usia lanjut. Namun, semangat mengajarnya tak kalah dengan yang lebih muda. Selama sekitar satu jam lebih dokter Prajit mengajar sambil berdiri di dekat meja dosen. Tangan kanannya menggenggam erat microphone. Sesekali ia mengacungkan tangan kirinya ketika berbicara. Gaya itu mengingatkan saya pada Bung Tomo ketika berteriak ”merdeka atau mati” saat mengobarkan semangat rakyat Surabaya pada peristiwa 10 November, kejadian bersejarah yang kini diperingati sebagai hari pahlawan.
Badannya kurus dengan tinggi sekira 160 senti meter. Punggungnya sedikit bungkuk. Kult sawo matang yang membungkus tubuhnya telah keriput di banyak tempat. Kesan Islami terpancar dari penampilannya : kopiah hitam, baju koko lengan panjang warna coklat muda, celana panjang putih. Rambut tipis beruban tampak menyembul dari bagian kepala yang tidak tertutup kopiah. Kumisnya yang keabuan terlihst senada dengan warna rambut berubannya.
”Sholat itu ndak boleh ditinggalkan,” kata dokter Prajit. Ia sering menyelipkan ajaran-ajaran Islam di sela-sela penyampaian materi. Orang tua biasanya suka menasihati anak-anak muda, dokter Prajit pun begitu. Ia menasihati mahasiswanya untuk rajin belajar.
Sesekali senyum ompong terukir di wajahnya ketika ia mencoba bercanda dengan mahasiswa, walaupun tak banyak mahasiswa yang menghadiri kuliahnya. Dari sekira 200 mahasiswa yang mengambil blok Kesehatan Usia Lanjut, hanya sekitar 50 mahasiswa yang menghadiri kuliahnya. Sudah tentu ruang kelas berkapasitas sekira 260 mahasiswa dengan model susunan kursi seperti gedung teater tampak lengang.
Kuliah dokter Prajit sepertinya tidak populer di kalangan mahasiswa. Maklum, ia tidak pernah menggunakan slide presentasi dalam mengajar. Dia hanya membagikan hand out sebelum memulai kuliah. Hand out-nya kadang diketik dengan mesin tik, bukan dengan komputer. Ditambah lagi suara seraknya yang terkadang sulit dipahami membuat mahasiswa berpikir ulang sebelum menghadiri kuliahnya.
Saya pernah berpapasan dengan dokter Prajit di tempat parkir. Saya takjub melihatnya menyetir sendiri mobil sedan toyota hijau yang tampak sudah berumur. Menurut penuturan seorang teman yang bernama Hilmi, dokter Prajit membeli mobil itu dengan penghasilannya tidak lama setelah ia menjadi dokter. Tapi Hilmi tak tahu pasti tahun berapa dokter Prajit membeli mobilnya. Sepertinya bagi dokter Prajit mobil itu punya arti yang tak ternilai.
Saya yakin dokter Prajit bukan orang yang berkekurangan. Menurut pengakuannya ia pernah menjabat sebagai kepala rumah sakit jiwa. Sudah tentu, uang bukan tujuan utama untuk tetap mengajar di usia senjanya. Saya kira, keinginan mengabdi pada dunia pendidikan kedokteran yang membuatnya masih bertahan mengajar.
Ketika usia tua tak menghentikan seseorang untuk terus mengabdi, ada kah pengabdian itu mengenal batas? Apakah ia mengenal kata ”cukup”?
Sabtu, 12 Juni 2010
Dialog-dialog
Selalu terjadi dialog-dialog, baik yang imajiner maupun yang nyata. Dialog yang terus terjadi, hingga terkadang kau tak bisa membedakan lagi mana yang nyata, mana yang bisikan hatimu, atau yang sepenuhnya imajiner. Namun, semuanya melebur di dalam satu kotak kenangan. Kau tak akan pernah melupakannya walau waktu coba mengaburkannya.
"Kamu seperti bukan Tika yang aku kenal."
"Maksudmu?"
"Kamu bukan Tika yang pendamai lagi."
"Ya, mungkin benar"
"Kenapa?"
"Saya mulai berpikir, saya harus belajar untuk membela dan menjaga diri sendiri. Karena dalam hidup ini tak selamanya ada orang-orang yang akan selalu menjaga saya."
"Kamu berubah!!"
"Apakah itu salah?"
Tak ada jawaban lagi setelah pertanyaan itu....
Kadang perkataan sekasar apapun jauh lebih baik daripada ini. Sungguh, saya benci jika kamu mulai diam dan menggantungkan dialog-dialog yang terucap...
"Kamu seperti bukan Tika yang aku kenal."
"Maksudmu?"
"Kamu bukan Tika yang pendamai lagi."
"Ya, mungkin benar"
"Kenapa?"
"Saya mulai berpikir, saya harus belajar untuk membela dan menjaga diri sendiri. Karena dalam hidup ini tak selamanya ada orang-orang yang akan selalu menjaga saya."
"Kamu berubah!!"
"Apakah itu salah?"
Tak ada jawaban lagi setelah pertanyaan itu....
Kadang perkataan sekasar apapun jauh lebih baik daripada ini. Sungguh, saya benci jika kamu mulai diam dan menggantungkan dialog-dialog yang terucap...
Sabtu, 27 Februari 2010
Ia yang (Masih) Menentang Untuk Pergi
Namanya keraguan, ia pasti pernah bersemayam di hati setiap manusia, walaupun hanya setitik. Kadang kala ia begitu kejam, menyiksamu dengan sejumlah besar kegamangan. Sesuatu yang membuatmu sulit tidur, tidak nafsu makan, cepat lelah dan badanmu menjadi lemah. Mungkin mirip seperti Frank Sinatra ketika kena salesma. Biasanya ia akan menjumpaimu ketika kau berada dipersimpangan jalan. Persimpangan jalan yang membingungkanmu karena kau terlalu banyak menimbang hal-hal yang mungkin kau pertaruhkan. Ia makin menyesaki keyakinan yang telah kau persiapkan sebelumnya. Bahkan kadang ia mendesak keyakinanmu, membuatnya menciut lalu menjadi sesuatu yang akhirnya kau lupakan. Dan BOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMM!!! Hilang sudah keyakinanmu yang dulu. Keraguan bisa menjadi begitu hebat, bukan?
Jika keraguan bisa memesan kartu nama, mungkin akan tertulis begini di kartu namanya :
Nama : KERAGUAN
Alamat : HATI KECIL SETIAP MANUSIA
Telepon : 081-keraguan-9992
Kau lihat itu? Ia tinggal di hati kecilmu. Ia ada di sana, atau setidaknya pernah ada di sana. Walaupun kau bisa saja mati-matian menyangkalnya. Tapi ia menetap di hatimu. Tak bisa kau usir dengan setumpuk penyangkalan dan apologi yang kau susun macam beberapa penghuni parlemen di negerimu.
Dan akan kah kau menyesalinya? Menyesali keyakinanmu yang kini telah menguap? Atau mungkin kau malah mensyukurinya? Berterima kasih kepada keraguan karena ia telah menyelamatkanmu dari keyakinan yang salah. Lalu apa makna keraguan itu? Harus kah ia diidentikan sebagai sesuatu yang buruk atau baik? Atau kah sebenarnya keraguan adalah hal yang abstrak? Bagaimana jika keraguan itu tidak abstrak, tetapi ia hanya sesuatu yang absurd?
Keraguan itu tengah menggentayangi pikiranku. Ia masih memberontak untuk berdamai dengan keyakinan yang telah kuciptakan sebelumnya. Hidup ini rasional, dan suatu keyakinan bisa saja salah. Aku masih mencoba merasionalkan keduanya, keyakinan dan keraguan tersebut (harus kuakui kadang keduanya bisa menjadi begitu sialan).
Ia mengahntui otakku sejak aku menimbang-nimbang untuk meninggalkan kalian, kawan-kawan yang sangat berarti bagiku. Mungkin kalian bertanya mengapa aku ingin pergi, tapi bisa saja sama sekali tak bertanya-tanya. Memangnya siapa aku ini? Memangnya aku cukup layak untuk memancing pengatur pusat kesadaran kalian mempertanyakan kenapa aku ingin pergi. Kalian tahu kawan? enam puluh persen komunikasi manusia dilakukan secara nonverbal. Baik itu lewat tulisan atau body language. Itu sebabnya terkadang orang yang verbalnya sangat buruk dapat menulis dengan luar biasa baik. Konon penulis bernama Muhiddin M Dahlan pun begitu. Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku sering tak pintar mengungkapkan apa yang ada di pikiranku.
Ada banyak alasan kenapa aku merasa tak dapat lagi melanjutkan kebersamaan ini. Aku menyadari banyak hal telah berubah. Semuanya tak seperti dulu. Tapi perubahan adalah realita. Aku memaklumi bila kini ada yang mulai terbuka topeng-topengnya. Topeng yang membiaskan benci menjadi senyum. Aku paham, dimana pun kita berpijak, akan selalu ada tatapan-tatapan mata yang tak ikhlas. Yang sebenarnya sangat tidak menginginkan kehadiranmu di hadapan kedua bola matanya.
Jika aku bicara masalaha pekerjaan yang kita lalui bersama, ada hal lain yang juga menumbuhkan keyakinan untuk hengkang itu. Manusia bukan makhluk soliter, ia makhluk yang selalu membutuhkan manusia-manusia lain. Begitu juga dengan dua jurnalis pemenang Pulitzer yang membongkar kasus Watergate. Sering kali mereka bersama-sama menghadapi reportase yang sulit dan deadline yang mengejar. Itu membuat tanda tanya-tanda tanya berterbangan di depanku. Jika mereka yang menang Pulitzer saja sering bekerja bersama, kenapa aku sering melakukan kerja jurnalis sendirian? Kenapa tak ada yang menemaniku? hanya memberikan sejumlah janji untuk menemani reportase, tapi realisasinya nihil.
Kadang aku sedih, kenapa justru teman dari persma lain yang mengantarku reportase? Apakah aku telah menjadi demikian “terbuang” diantara komunitasku sendiri? Kenapa aku “seperti” dibiarkan bekerja sendirian? Belum lagi persoalan bidang. Kenapa ????????????????????????????????????????????
Ada kah “kebersamaan” ini berarti banyak? Aku memberi tanda kutip pada kata kebersamaan karena aku jadi berpikir ulang, apakah ini sudah layak untuk dikatakan kebrsamaan? Apa kalian benar-benar mengenalku? Apa aku telah mengenal kalian luar-dalam? Bagaimana jika semuanya semu? Aku hanya merasa mengenal kalian dan kalian hanya merasa mengenalku. Tak sedikit pun aku meragukan pengorbanan kalian untuk semua yang pernah kita lalui, tapi kenapa semua cepat berubah? Kenapa tak seperti dulu lagi?
Kenapa? Kenapa banyak yang berubah dengan sangat cepat?
Saat itu lah aku sampai di persimpangan jalan, antara pergi atau tinggal. Dan ia yang bernama keraguan mencoba menghadang keyakinanku untuk pergi. Tapi sampai kapan ia mampu menahan? Aku sadar, jika aku pergi mungkin aku tak akan seberuntung ini lagi bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti kalian. Tapi mungkin akan ada saat dimana aku akan mengayunkan langkahku untuk beranjak. Dunia selalu penuh dengan kemungkinan, kawan. Apa pun bisa berubah. Seperti senja yang bertukar dengan malam. Ketertarikanku pun mulai berubah, aku mulai menoleh kepada sastra, meskipun belum berpaling dari jurnalisme. Aku sedih, kadang jurnalisme membuatku merasa begitu sendirian ketika aku melakukan kerja-kerja jurnalis.
Ia yang bernama keraguan masih berdiri di sana. Masih menentang keyakinanku untuk menjauh dari ruangan berkarpet biru itu. Apakah keyakinanku untuk pergi itu salah? Atau keraguan yang menentang si keyakinan yang salah? Kenapa banyak hal hanya diukur sebagai salah-benar?
Jika keraguan bisa memesan kartu nama, mungkin akan tertulis begini di kartu namanya :
Nama : KERAGUAN
Alamat : HATI KECIL SETIAP MANUSIA
Telepon : 081-keraguan-9992
Kau lihat itu? Ia tinggal di hati kecilmu. Ia ada di sana, atau setidaknya pernah ada di sana. Walaupun kau bisa saja mati-matian menyangkalnya. Tapi ia menetap di hatimu. Tak bisa kau usir dengan setumpuk penyangkalan dan apologi yang kau susun macam beberapa penghuni parlemen di negerimu.
Dan akan kah kau menyesalinya? Menyesali keyakinanmu yang kini telah menguap? Atau mungkin kau malah mensyukurinya? Berterima kasih kepada keraguan karena ia telah menyelamatkanmu dari keyakinan yang salah. Lalu apa makna keraguan itu? Harus kah ia diidentikan sebagai sesuatu yang buruk atau baik? Atau kah sebenarnya keraguan adalah hal yang abstrak? Bagaimana jika keraguan itu tidak abstrak, tetapi ia hanya sesuatu yang absurd?
Keraguan itu tengah menggentayangi pikiranku. Ia masih memberontak untuk berdamai dengan keyakinan yang telah kuciptakan sebelumnya. Hidup ini rasional, dan suatu keyakinan bisa saja salah. Aku masih mencoba merasionalkan keduanya, keyakinan dan keraguan tersebut (harus kuakui kadang keduanya bisa menjadi begitu sialan).
Ia mengahntui otakku sejak aku menimbang-nimbang untuk meninggalkan kalian, kawan-kawan yang sangat berarti bagiku. Mungkin kalian bertanya mengapa aku ingin pergi, tapi bisa saja sama sekali tak bertanya-tanya. Memangnya siapa aku ini? Memangnya aku cukup layak untuk memancing pengatur pusat kesadaran kalian mempertanyakan kenapa aku ingin pergi. Kalian tahu kawan? enam puluh persen komunikasi manusia dilakukan secara nonverbal. Baik itu lewat tulisan atau body language. Itu sebabnya terkadang orang yang verbalnya sangat buruk dapat menulis dengan luar biasa baik. Konon penulis bernama Muhiddin M Dahlan pun begitu. Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku sering tak pintar mengungkapkan apa yang ada di pikiranku.
Ada banyak alasan kenapa aku merasa tak dapat lagi melanjutkan kebersamaan ini. Aku menyadari banyak hal telah berubah. Semuanya tak seperti dulu. Tapi perubahan adalah realita. Aku memaklumi bila kini ada yang mulai terbuka topeng-topengnya. Topeng yang membiaskan benci menjadi senyum. Aku paham, dimana pun kita berpijak, akan selalu ada tatapan-tatapan mata yang tak ikhlas. Yang sebenarnya sangat tidak menginginkan kehadiranmu di hadapan kedua bola matanya.
Jika aku bicara masalaha pekerjaan yang kita lalui bersama, ada hal lain yang juga menumbuhkan keyakinan untuk hengkang itu. Manusia bukan makhluk soliter, ia makhluk yang selalu membutuhkan manusia-manusia lain. Begitu juga dengan dua jurnalis pemenang Pulitzer yang membongkar kasus Watergate. Sering kali mereka bersama-sama menghadapi reportase yang sulit dan deadline yang mengejar. Itu membuat tanda tanya-tanda tanya berterbangan di depanku. Jika mereka yang menang Pulitzer saja sering bekerja bersama, kenapa aku sering melakukan kerja jurnalis sendirian? Kenapa tak ada yang menemaniku? hanya memberikan sejumlah janji untuk menemani reportase, tapi realisasinya nihil.
Kadang aku sedih, kenapa justru teman dari persma lain yang mengantarku reportase? Apakah aku telah menjadi demikian “terbuang” diantara komunitasku sendiri? Kenapa aku “seperti” dibiarkan bekerja sendirian? Belum lagi persoalan bidang. Kenapa ????????????????????????????????????????????
Ada kah “kebersamaan” ini berarti banyak? Aku memberi tanda kutip pada kata kebersamaan karena aku jadi berpikir ulang, apakah ini sudah layak untuk dikatakan kebrsamaan? Apa kalian benar-benar mengenalku? Apa aku telah mengenal kalian luar-dalam? Bagaimana jika semuanya semu? Aku hanya merasa mengenal kalian dan kalian hanya merasa mengenalku. Tak sedikit pun aku meragukan pengorbanan kalian untuk semua yang pernah kita lalui, tapi kenapa semua cepat berubah? Kenapa tak seperti dulu lagi?
Kenapa? Kenapa banyak yang berubah dengan sangat cepat?
Saat itu lah aku sampai di persimpangan jalan, antara pergi atau tinggal. Dan ia yang bernama keraguan mencoba menghadang keyakinanku untuk pergi. Tapi sampai kapan ia mampu menahan? Aku sadar, jika aku pergi mungkin aku tak akan seberuntung ini lagi bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti kalian. Tapi mungkin akan ada saat dimana aku akan mengayunkan langkahku untuk beranjak. Dunia selalu penuh dengan kemungkinan, kawan. Apa pun bisa berubah. Seperti senja yang bertukar dengan malam. Ketertarikanku pun mulai berubah, aku mulai menoleh kepada sastra, meskipun belum berpaling dari jurnalisme. Aku sedih, kadang jurnalisme membuatku merasa begitu sendirian ketika aku melakukan kerja-kerja jurnalis.
Ia yang bernama keraguan masih berdiri di sana. Masih menentang keyakinanku untuk menjauh dari ruangan berkarpet biru itu. Apakah keyakinanku untuk pergi itu salah? Atau keraguan yang menentang si keyakinan yang salah? Kenapa banyak hal hanya diukur sebagai salah-benar?
Minggu, 10 Januari 2010
Hasil Hunting Foto di Kota Gede, Yogyakarta
Berikut ini beberapa hasil jepretan saya ketika hunting foto di Pasar Legi Kota Gede bersama teman-teman Lembaga Pers Mahasiswa Himmah. Semua foto ini diambil dengan meminjam kamera milik seorang teman karena saya tidak mempunyai kamera sendiri. Saya menyukai genre fotografi jurnalistik. Saya masih belajar fotografi jurnalistik, maaf jika masih ada kekurangan :D

Suasana di depan Pasar Legi Kota Gede Yogyakarta

Kuli angkut di pasar

Menyenangkan anak

Transaksi hari ini

Uang hasil berdagang

Angkut dari motor

Membeli pisang

Pedagang buah
Suasana di depan Pasar Legi Kota Gede Yogyakarta
Kuli angkut di pasar
Menyenangkan anak
Transaksi hari ini
Uang hasil berdagang
Angkut dari motor
Membeli pisang
Pedagang buah
Dari Lautan Hingga Kaliurang

Christian Awuy tak pernah menduga kehidupannya akan menjadi seperti sekarang. Karirnya di bidang pelayaran yang ia geluti selama enam belas tahun sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang tengah ia tekuni sekarang.
Mariyadi, petugas Taman Wisata Kaliurang memberi rekomendasi kepada kami. “Kalau mau dapat banyak informasi tentang wisma atau vila di Kaliurang, coba minta informasi sama pak Christian Awuy. “ Lebih lanjut, pria berkumis tebal dengan rambut yang mulai beruban itu menjelaskan di mana kami bisa bertemu Christian Awuy. Ia bisa ditemui di wisma yang dikelolanya, Vogel Youth Hostel.
Kata Mariyadi lagi, selain sebagai pengelola Vogel, Christian Awuy juga ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang (ASPEK). Letak Vogel tidak jauh dari Taman Wisata Kaliurang, sekitar delapan meter ke selatan. Bangunan hostel itu bersebelahan dengan warung Poci, warung kopi yang ramai dikunjungi saat malam hari.
Hostel itu dibangun dengan arsitektur gaya Belanda, dengan lebar pintu dan jendela sekitar satu meter serta dinding yang tebalnya sekira 30 sentimeter. Namun, unsur-unsur Keraton Jogjakarta juga nampak menghiasi Vogel. Terutama pada kayu-kayu jendela dan pintu yang dicat hijau-kuning. Sangat khas Keraton Jogjakarta. Luas tanahnya kurang lebih 3000 meter persegi, dengan luas bangunan antara 600 meter persegi. Hostel juga dilengkapi dengan restoran yang menyediakan fasillitas hot spot area.
Kami menemui Christian Awuy di ruang kerjanya. Ia tengah duduk di balik meja kerja sambil menekuri setumpuk kertas dihadapannya. Ruangan itu berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 4x4 meter, terletak di dekat pintu samping Vogel. Berbagai barang menyesaki ruang kerja Awuy. Ada meja kerja di sudut ruangan, dipenuhi dengan banyak plakat dan tumpukan kertas. Dua buah Computer Personal Unit (CPU) ikut mengisi ruangan, satu di samping meja kerja, satu lagi di sudut lain. Tiga kursi warna abu-abu dan sebuah meja panjang yang digunakan untuk menerima tamu terletak di depan meja kerja Awuy.
Plakat-plakat, sertifikat, penghargaan dan foto yang mengisahkan masa lalu serta perjalanan karir Awuy mendominasi dinding ruang kerjanya. Dua sertifikat yang dianugrahkan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) menjadi bukti prestasi Auwey.
Awuy meluangkan waktunya untuk menerima kami. Ia berpakaian serba hitam. Mulai dari celana panjang, kemeja lengan panjang, topi, juga sepatu. Kulitnya yang putih nampak kontras dengan pakaian serba hitamnya. Perjalanan waktu yang dilalui pria asal Sulawesi itu menyisakan guratan keriput halus di wajahnya.
Awuy menuturkan pengalaman-pengalaman yang telah ia lalui sambil duduk bersandar di punggung kursi abu-abu. Jabatannya sebagai ketua ASPEK tidak menyurutkan usahanya untuk tetap mengelola Vogel, yang telah ia kelola sejak tahun 1983. Pria berusia 63 tahun itu mengaku tidak pernah menduga bahwa kehidupannya akan seperti sekarang, menjadi pengelola hostel dan berkecimpung di dunia pariwisata pada umumnya.
“Padahal dulu saya seorang pelaut. Saya berkecimpung di pelayaran selama 16 tahun. Sudah mengelilingi banyak negara di lima benua,” katanya.
Perkenalannya dengan dunia pariwisata berawal secara tidak terduga pada 1983. Ia memutuskan untuk berhenti menjadi pelaut setelah tiga kali mengalami kecelakaan kapal. “ Saya pernah tenggelam tiga kali di laut karena kapal yang saya tumpangi karam. Kecelakaan terakhir terjadi ketika saya berlayar ke Filipina. Saya bersama sekitar 20 orang awak kapal lainnya terombang-ambing selama 46 jam di perairan Filipina. Sampai akhirnya diselamatkan oleh kapal Amerika dan dibawa ke rumah sakit di Manila.”
Kecelakaan terakhir itu membuatnya berpikir untuk menyudahi karir sebagai pelaut. Hal itu diperkuat dengan pertemuan secara kebetulan dengan peramal Cina tua di Glodok, Jakarta. Saat itu ia sedang berjalan-jalan, tiba-tiba seorang peramal tua berjenggot panjang memanggilnya. Awuy menghampiri si peramal. Sambil memeriksa garis tangan Auwey, peramal itu mengatakan sebaiknya Awuy berhenti dari pekerjaannya. Jika ia tidak berhenti, ia bisa mengalami kecelakaan yang lebih parah. Awuy terkejut. Ia tak habis pikir bagaimana peramal itu mengetahui kecelakaan-kecelakaan yang pernah dialaminya.
Kebetulan, kakak perempuannya yang tinggal di Jogjakarta menawarkan pekerjaan di bagian administrasi sebuah perusahaan konstruksi milik suaminya. Awuy menyetujui tawaran itu. Singkat cerita, ketika perusahaan konstruksi itu membangun bendungan Kalikuning, Awuy ditugaskan mengawasi pembangunan tersebut. Selama menjadi pengawas, dia difasilitasi kamar di Hotel Joyo, yang jaraknya sekitar 8 meter dari Vogel. Dari situ, ia sering bertemu dengan gadis keturunan Jepang bernama AM Masako, kasir restoran di Vogel yang kelak menjadi istrinya.
Pria kelahiran Manado itu juga menuturkan latar belakang kepemilikan Vogel. Vogel dibangun pada masa pemerintah kolonial Belanda. Memasuki era penjajahan Jepang, ada seorang tentara Jepang bernama Yukithosi Tanaka yang dikirim ke Yogyakarta. Agaknya Tanaka berbeda dengan tentara-tentara Jepang lainnya. Ia jatuh cinta pada Indonesia. Bahkan, ia berbalik membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kelak Tanaka pun mengganti namanya menjadi Yukithosi Tanaka Abdul Rosid sebagai wujud kecintaannya pada negeri ini. Mungkin ia seperti Laksamana Maeda, yang menyediakan rumahnya untuk tempat pengetikan naskah proklamasi. Mereka sama-sama berperan dalam berdirinya republik ini.
Selepas kemerdekaan Indonesia, Radjiman selaku perdana menteri pertama Indonesia memberi Tanaka sebuah vila. Sebagai bentuk terima kasihnya kepada Tanaka yang telah berperan menyokong lahirnya negara ini. Radjiman berpesan, vila itu hanya boleh dikelola oleh Tanaka dan keluarganya. Vila tersebut bernama Vogel.
Setelah menikah dengan Masako,Tanaka selaku ayah mertua Awuy memintanya melanjutkan pengelolaan Vogel Youth Hostel. Awuy menyanggupi. Apalagi, setahun setelah pernikahannya, perusahaan konstruksi tempat ia bekerja bangkrut.
Awuy menekuni profesinya mengelola Vogel. Karena Vogel adalah bangunan berarsitektur Belanda, ia memfokuskan segmen pasarnya pada orang asing. “Orang asing lebih suka bangunan yang tua dan unik. Kalau orang kita malah takut dengan bangunan tua. Takut penampakkan katanya,” tuturnya sambil tersenyum.
Untuk mendongkrak promosi wisata Kaliurang, Awuy berinisiatif menciptakan “sensasi”. Ia membuat ampyang ( sejenis makianan tradisional) sepanjang 100 meter, jadah tempe berdiameter lima meter dan wajik seberat satu ton. Usaha itu diganjar dengan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia.
Dengan promosinya yang telah merambah segmen internasional, Vogel telah menjaring banyak turis asing, yang tentunya berimbas pada penerimaan devisa Negara. “Sejak tahun 1983 sampai sekarang, Vogel pernah dijadikan tempat menginap sekitar 700 ribu wisatawan asing.” Namun, Awuy menyangkan pemerintah kurang memperhatikan bangunan-bangunan tua seperti Vogel.
Walaupun wawancara sempat terpotong beberapa kali karena ada oang-orang yang berkepentingan untuk bertemu Awuy, ia tetap menerima kami dengan senyum yang sesekali terukir di wajahnya. Bebrapa kali dia meminta maaf dengan sopan bila terpaksa harus meninggalkan kami sejenak untuk menemui orang lain.
Awuy pun menuturkan, ia berharap salah satu dari dua orang putranya berkenan meneruskan pengelolaan Vogel. Ia juga berkeinginan untuk mempertahankan bentuk asli bangunan hostel itu. “Vogel ini sudah berdiri sejak zaman Belanda, saya dan keluarga tetap ingin mempertahankan keaslian bangunannya,” tuturnya mengakhiri percakapan siang itu.

Vogel Youth Hostel yang sedang digunakan oleh mahasiswa UPN Yogyakarta
Reportase bersama Sulistyo Wijanarko
Foto-foto oleh Ikhwan
Langganan:
Postingan (Atom)