Jumat, 21 Januari 2011

Di Halte yang Menunggu Waktu

Kau berdiri di ujung kanan halte

Aku duduk di sudut kiri, jarak 

bersimpuh di antara kita


Kita menunggu bus dimana cinta menjadi

penumpang dalam bus itu

Kemudian waktu berlutut

pada jarak tiga jarum dalam arloji

(Bus yang ditunggu tidak datang 

tepat waktu. Memberi sang halte 

peluang untuk menunggu waktu)


Aku ingin mengoyak jarak

Mendekat padamu yang masih

juga berdiri tegak

lalu bertanya : "Permisi, Mas. Apa kita menunggu 

cinta yang sama?"

(Dan kiranya cinta juga tidak

datang tepat waktu)

Minggu, 19 Desember 2010

Dari Jendela Kamarku

Segala seuatu memiliki awal mula. Hariku bermula dari sini, dari empat sisi dinding bercat ungu muda, kamarku.

Luas kamarku sekira dua belas meter persegi. Sebuah kamar yang meja belajarnya selalu berantakan oleh tumpukkan buku. Dua lemari buku dan satu meja komputer kecil sudah tak kuasa menampung semua bukuku, akibatnya meja belajarku ikut menjadi tempat penampungan buku. Aku hanya bisa menggunakan meja itu jika seluruh bukunya kupindahkan di lantai untuk sementara. Tidak jarang tumpukkan buku itu rubuh jika aku menyusunnya terlalu tinggi atau tidak seimbang. Di samping meja kacau itu, sebuah jendela melekat di tembok. Satu-satunya jendela di kamarku.

Setiap pagi atau siang -bergantung dari pukul berapa aku bangun- aku memulai hariku dengan sebuah aktifitas rutin, membuka gorden jendela kamarku. Cahaya matahari segera berhamburan masuk begitu aku menyibakkan gorden abu-abu dengan sedikit hiasan motif batik. Tak ada pemandangan menarik dari jendela yang bersekat kawat nyamuk itu. Satu-satunya pemandangan hanyalah lorong sempit dan dinding putih berlumut yang membatasi rumah kontrakanku dengan rumah tetangga.

Itu telah menjadi semacam rutinitas, bangun tidur dan membuka gorden jendela. Sebuah rutinitas untuk mengawali hari yang belum kuketahui rencana Tuhan apa yang akan terjadi hari ini.

Lalu dimulai dari gorden dan jendela itu, aku ingin belajar mensyukuri satu hari lagi yang Tuhan berikan. Dalam rasa syukur itu, jika aku menangis semalam, aku berusaha tidak membawa air mata itu hari ini. Aku akan belajar lebih kuat. Ya, harus selalu belajar, belajar dan belajar, karena setiap hari adalah hari baru.

Hidup ini hanya sekali, dan yang sekali ini harus berarti…


Selasa, 14 Desember 2010

Buku dan Hujan

Kekasih baruku bernama
buku dan hujan
Pada dingin yang menikam,
kami tenggelam bersama
dalam banjir aksara

Senin, 29 November 2010

Only U, dan (benar-benar) hanya kamu


Only U, dan (benar-benar) hanya kamu...
Pensil HB, 2B dan 4B pada kertas A4

Senin, 01 November 2010

Cerita 21

Ketika Joni dua satu dan Susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas
kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.
Namaku Joni,
namamu Susi.
Namamu Joni,
namaku Susi.

(Intro, Melancholic Bitch)

Ahay, sejak 25 Oktober 2010 saya sudah seusia Joni. Tapi semoga saya lebih beruntung daripada Joni yang diceritakan menjadi korban amuk massa pada lagu “Apel Adam.” Joni dihajar massa setelah ketahuan mencuri roti untuk Susi yang sedang sakit.

Saya sendiri tidak tahu mengapa saya bisa tergila-gila pada Melancholic Bitch, band indie dari Jogjakarta. Melancholic Bitch telah menjadi salah satu band yang paling saya sukai, selain Linkin Park dan Green Day. Tapi kali ini saya bukan akan berbicara soal musik.

Ini bukan hanya cerita tentang hari dimana saya mulai berusia dua puluh satu tahun. Ini sedikit penggalan cerita mengenai apa yang sudah terjadi selama hidup saya yang kini telah dua satu. Hanya sedikit.

Menurut saya dan beberapa teman dekat, saya termasuk anak yang introvert. Berdasarkan yang saya pelajari selama Blok Kesehatan Jiwa, tipe kepribadian introvert bukan lah sesuatu yang baik. Seingat saya, orang introvert cenderung kesulitan membuka diri dan berbicara pada orang lain tentang masalah yang ia hadapi. Ia lebih banyak memendamnya sendiri sehingga sering kali tidak mendapatkan solusi yang tepat. Ini membuat orang introvert lebih mudah terjangkit depresi.

Selama ini saya berusaha menganalisis apa yang membuat saya menjadi seorang introvert. Lalu saya menemukan kemungkinan penyebabnya dalam kepingan puzzle masa kecil saya. Terus terang, ini bukan peristiwa yang pernah saya ceritakan kepada siapa pun, walaupun tentu saja keluarga saya mengetahuinya.

Tidak banyak hal yang bisa saya ingat ketika saya balita. Tapi peristiwa itu tidak bisa dilupakan. Ketika kecil saya dan kakak diasuh oleh seorang pembantu karena mama dan papa bekerja sejak pagi hingga sore. Waktu itu kami sekeluarga masih tinggal di Cilacap. Saat itu kalau tidak salah kakak masih TK dan saya belum sekolah.

Pada suatu siang, pembantu kami mengurung saya dan kakak di dalam kamar yang gelap dan menguncinya dari luar. Kami yang masih kecil begitu ketakutan dan menangis. Tapi pembantu itu tidak membukakan pintu sampai waktu yang cukup lama. Saya lupa siapa yang bercerita pada saya ketika saya sudah cukup besar. Katanya waktu itu pembantu kami sedang pacaran.

Lalu pernah juga pembantu itu memecahkan asbak secara tidak sengaja. Ia menggunakan beling pecahan asbak untuk melukai tangan kakak dan mengatakan pada orang tua kami kalau kakak yang memecahkan asbak saat bermain. Saya kurang paham tentang psikologi, tetapi mungkin apa yang dilakukan pembantu kami tergolong child abuse. Dan itu cukup membekas dalam hidup saya.

Saya tidak ingat kapan orang tua saya memberhentikan pembantu itu. Kalau tidak salah, setelah tetangga kami banyak bercerita tentang kelakuannya. Sedikit ingatan itu membuat saya mengerti mengapa saya benci mati lampu dan tidak suka pada ruangan yang sama sekali gelap. Walaupun terkadang saya mematikan lampu kamar saat tidur, tapi biasanya saya membiarkan laptop atau televisi tetap menyala sebagai penerangan. Tentu saja, itu menjadi salah satu dosa saya pada bumi karena tidak hemat energi listrik.

Saya sangat suka menggambar dan mempunyai dua buku sketsa. Bagi saya buku sketsa terkadang mirip seperti buku harian, sama-sama menjadi tempat penampungan “sampah” pemikiran dan perasaan. Bedanya, buku sketsa menampung sampah-sampah dalam wujud visual. Pada salah satu buku sketsa, ada sebuah gambar tangan yang berdarah-darah. Itu gambar lama dan saya tidak ingat kapan dan mengapa saya menggambar itu. Lagi-lagi saya mengacu pada ingatan masa kecil itu, mungkin kejadian itu masih mempengaruhi alam bawah sadar saya.

Akhirnya sejak kecil saya tidak terbiasa bicara pada orang dewasa (termasuk orang tua saya) karena takut. Ada beberapa hal lagi yang tidak bisa saya ceritakan di sini, hal-hal yang juga membuat saya tidak biasa bicara pada orang lain. Mungkin dan hanya mungkin (perlu serangkaian tes dan analisis yang lebih dalam untuk memastikannya), peristiwa-peristiwa tadi menjadi salah satu faktor pendorong yang membuat saya menjadi seorang introvert.

Saya tidak pandai bicara pada orang lain, sering tidak bisa menyampaikan dengan baik apa yang saya rasakan. Kata orang pola komunikasi saya buruk. Karena tidak bisa berkomunikasi verbal dengan baik, saya mengalihkannya pada tulisan dan gambar. Itu sebabnya saya suka sekali menulis dan menggambar, menyukai hal-hal yang tidak verbal. Itu juga yang membuat saya sulit lepas dari buku harian dan buku sketsa.

Seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak SMP pernah memarahi sikap introvert saya. Katanya dia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada saya, hanya mendapati saya sudah “jatuh” tanpa tahu bagaimana saya bisa terjatuh. Itu membuatnya kesal, ia merasa tidak dianggap sebagai seorang sahabat.

Tetapi ada banyak peristiwa yang menyadarkan saya untuk berubah. Peristiwa-peristiwa yang belum lama terjadi. Oleh karena kejadian-kejadian itu, sejak beberapa bulan lalu saya mencoba berubah, berusaha keras untuk belajar terbuka pada orang lain. Sejauh ini tidak mudah, karena memang tidak terbiasa. Butuh usaha keras untuk berbagi apa yang saya rasakan kepada orang lain, mencoba memperbaiki pola komunikasi saya. Mendobrak suatu kebiasaan yang sudah mengakar memang sulit. Jika saya menceritakan sesuatu yang menurut saya penting kepada seseorang, itu artinya saya telah mempercayai orang tersebut. Betapa menaruh kepercayaan juga bukan hal mudah untuk saya.

Terbuka pada orang lain ternyata sangat bermanfaat. Membagi apa yang dirasakan bisa meringankan beban dan sering kali masalah saya terselesaikan dengan baik. Ternyata jadi seorang yang mendapat kepercayaan sebagai tempat berbagi pun menjadi kebahagiaan tersendiri. Setidaknya begitu lah kata beberapa orang yang telah saya percayai.

***

Senin 25 Oktober 2010 menjadi hari ketika saya genap dua puluh satu tahun. Saya bukan tipe orang yang mengistimewakan hari ulang tahun. Bagi saya hari ulang tahun tetap seperti hari-hari lainnya. Hanya sedikit berbeda karena pada hari itu Tuhan menciptakan selembar kertas dan menuliskan nama saya pada sudut kanan atasnya. Kertas yang lalu diisi dengan tulisan, coretan, goresan dan tumpahan-tumpahan cat air di sana-sini ; sebuah analogi tentang hidup. Saya bersyukur untuk semua yang telah Tuhan berikan.

Karena tidak mengistimewakan hari ulang tahun, hal-hal sederhana yang dilakukan oleh orang-orang dekat sudah membuat saya merasa sangat senang. Telepon dan pesan singkat yang mengucapkan selamat ulang tahun pada pukul 00.00 WIB, aliran ucapan selamat ulang tahun dari ponsel dan Facebook, apalagi jika diberi mawar atau teddy bear. Saya sangat berterima kasih untuk orang-orang yang serupa malaikat baik, awan naungan dari matari yang terik. Orang-orang yang telah ikut mewarnai dan menjaga selembar kertas yang bertuliskan namaku pada sudut kanan atasnya. Sungguh, saya menyayangi kalian dalam segala musim.

Apa yang saya dapatkan pada 25 Oktober 2010 benar-benar unik. Selesai tutorial, seorang teman kampus yang tergabung dalam kelompok tutorial yang sama dengan saya memberi sepuluh lilin warna-warni tanpa kue. Hanya lilin saja ! Saya susah payah menahan tawa yang sudah mau meledak. Hal paling unik yang pernah terjadi pada hari ulang tahun saya. Terima kasih ya, kawan :D
Lalu selepas magrib mama, papa dan kakak mengunjungi saya di Jogja. Mereka dari rumah nenek di Magelang, mampir ke Jogja sebelum pulang ke Purwokerto. Bagi saya ini sangat istimewa karena untuk pertama kalinya kami berkumpul di hari ulang tahun saya sejak saya merantu ke Jogja pada 2007. Hari itu semakin istimewa karena kami sekeluarga sempat makan bersama.
Saya, papa dan mama


Saya dan kakak. Orang bilang kami tidak begitu mirip

***

Setiap orang bergantung pada hatinya masing-masing. Dan hidup adalah perca yang ingin kuselesaikan…

Selasa, 28 September 2010

Ruang dan Waktu yang Bertengkar

Ruang dan waktu bertengkar di meja makan. Pertengkaran mereka melahirkan kekacauan dalam rupa piring-piring pecah dan meja-kursi yang terjungkal. Lucu sekali, padahal meja makan merupakan bagian dari ruang dan waktu. Kepingan puzzle kehidupan manusia tak bisa lepas dari meja makan, karena manusia pasti makan. Banyak peristiwa terekam di sana. Sebagian kehidupan manusia bisa terlukis jika rekaman-rekaman tadi disatukan.

Pusing sedang bermain-main dengan kepalaku. Aku kira malam itu akan sama seperti malam-malam yang lain. Aku memasuki rumah makan Padang dan menuju meja bulat tempat aku dan teman-temanku biasa makan. Kami selalu makan malam di sini dan selalu duduk di meja bulat bertaplak putih dekat jendela. Lokasi meja itu berada di sudut ruangan. Teman-temanku sudah duduk mengelilingi meja ketika aku datang. Mereka selalu duduk di tempat yang sama. Aku berharap pusing akan pergi setelah aku makan. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku bertekad menghabiskan makan malamku.


Jendela dan Segelas Soda

Pensil HB dan 4B pada kertas A4


Rumah makan ini sedang ramai pengunjung. Semua meja penuh oleh orang-orang yang makan sambil mengobrol. Sebagian besar makan dengan tangan, tidak pakai sendok.

Lalu semua ini terjadi pada malam yang biasa, ketika kami berenam, eh berdelapan, bukan berdelapan, tapi bertujuh (ah sudahlah, ada kalanya jumlah tak begitu penting) sedang makan. Kali ini kami hanya makan sepiring nasi tanpa lauk apapun. Suara sendok, garpu dan piring yang beradu benar-benar gaduh. Nyaring seperti kekesalan di hati kami yang tak semuanya bisa terungkap. Hanya sebagian kecil yang muncul dan terucap oleh bibir. Ada yang tak terucap karena merasa sungkan, ada juga yang terlalu menyakitkan jika dikatakan. Tetapi sebagian besar tertahan karena lidah memang tidak cukup untuk mewakili hati.

Nasi putihnya hambar. Kami tak merasakan rasa nasi. Seolah ada yang mencabut saraf-saraf sensorik pengecap di lidah. Hati kami yang merasa. Rasanya selalu berubah-ubah di setiap suapan. Rasanya bukan asin atau pahit. Ada suapan yang terasa sangat perih seperti dicabik-cabik. Aku mati-matian menahan air mata yang sudah hendak mengalir. Sakitnya luar biasa! Namun ada yang terasa amat melegakan, dan pada suapan yang lain hati ini rasanya melayang bahagia.

Menu makan malam ini sungguh aneh. Tak bisa diprediksi rasa apa yang muncul pada setiap suapan nasi. Hahaha….sungguh misterius. Serupa kehidupan yang serba tak terduga.

Tapi mengapa rasa nasi putih jadi seperti ini?

Kami membisu dengan ganjil di meja makan. Semua makan tanpa bicara. Dalam kebisuan, merasakan rasa yang berganti-ganti di hati. Lalu Joni mengawali percakapan. “Mungkin sekarang Karin nggak bisa, tapi Karin harus biasa. Karin mengerti, kan?” Ahai, lagi-lagi ia mengulangi nasihat itu padaku. Nasihat yang selalu ia ucapkan ketika aku akan memulai pekerjaan baru setelah makan malam. Joni selalu menganggapku anak kecil! Tentu saja aku mengerti. Analoginya seperti belajar memasak. Jika setiap hari aku terbiasa berada di dapur, menjalankan perintah ini-itu dari si koki diktator, suatu saat aku pasti bisa memasak. Joni tak percaya aku bisa menyelesaikan pekerjaan baruku sebagai kuli tinta. Sangat meremehkan!

Selain telingaku, tak ada yang hirau dengan perkataan Joni. Semuanya sibuk makan. Tiba-tiba jari telunjuk Sani berdarah. Ia menggenggam sendok terlalu kuat. Rupanya bukan hanya jari Sani yang berdarah, jariku juga. Lalu kulihat darah sudah mengalir dari seluruh jari kami. Toni menekan ujung kelingkingnya lalu menjilat darah yang mengalir dari luka itu. Nia mulai menangis tersedu. “Sudah jangan panik!” Joni berteriak gusar. Jika sudah berteriak macam begitu, kami semua tahu sebentar lagi Joni akan mulai bermonolog.

“Sudah lah, tidak apa-apa. Kita tumbuh dewasa di meja makan. Tak perlu takut berdarah untuk meja bulat ini. Bahakan jika meja ini membutuhkan darah, kita harus berdarah-darah untuknya. Berdarah-darah untuk tempat yang mendidik dan mendewasakan kita. Kita bukan siapa-siapa sebelum berada di meja ini. Setiap hari kita makan bersama. Berbincang dan bertengkar sambil makan. Dinamika meja ini telah mengajari kita arti kedewasaan.

Kalian tahu? Darah sangat berarti bagi orang Afganistan. Siapa ayah-ibumu dan darah siapa yang mengalir di tubuhmu amat penting. Darah itu menunjukkan asal-usulmu, siapa leluhurmu, dan apa yang telah diperbuat oleh leluhurmu.

Tapi hal itu tak penting bagiku. Menurutku keluarga tak terbatas pada darah. Selama kita saling menjaga dan menyayangi, maka kita adalah keluarga. Tak perlu tautan darah untuk menjadi sebuah keluarga. Dan meja makan ini telah menjadikan kita keluarga tanpa mengikat darah.

Aku yakin kalian pun mengerti. Untuk bisa tetap hidup, manusia butuh darah mengaliri pipa-pipa pembuluh darahnya. Kalian tidak perlu takut pada darah, termasuk darah yang keluar dari telapak tangan kalian itu.”

Lalu kami terdiam lagi. Semua meresapi perkataan Joni sambil kembali makan. Darah masih mengalir dari jari-jari. Apa benar meja ini yang mendewasakan kami? Aku tak berani berani menjawab pertanyaanku sendiri. Mungkin saja meja ini telah mendidikku dengan sangat halus. Begitu halus sampai aku tak merasa sedang dididik.

Aneh, nasinya tak kunjung habis, seperti tak akan pernah habis-habis. Kekesalan pun masih ngendon di hati kami. Aku jadi mengasihani hati kami. Selain mengecap rasa-rasa aneh dari tiap suapan nasi, masih juga jadi tempat bersarangnya kekesalan. Ah, kami menyiksa hati sendiri.

Mendadak kami berhenti makan secara serempak, seolah ada yang memerintah kami. Kemudian kami saling pandang. Tatapan penuh kemarahan menghiasi mata kami. Rupanya sekarang kami bertengkar dalam bahasa diam. Mungkin pertengkaran ini akibat akumulasi kekesalan. Tapi tak ada yang menyuarakan kemarahan lewat kata-kata. Setiap tatapan itu begitu mengerikan. Lebih mengerikan dari mata srigala lapar. Keheningan yang lebih ganjil membayangi kami. Masing-masing membisu, mewakilkan kemarahannya pada bahasa diam dan tatapan mata yang mengancam. Apa yang terjadi jika bahasa diam sudah menyerah mewakili kemarahan-kemarahan kami? Apa kami akan saling menikam?

Dalam sekejap mata, dengan sekuat tenaga Sani melemparkan piringnya ke tengah meja. Suara piring pecah menggema di rumah makan mungil ini. Selain Joni, yang lain pun melakukan hal yang sama, aku juga melempar piringku ke tengah meja. Para pengunjung lari kocar-kacir mendengar keributan dari meja kami. Teriakan panik yang melengking mengiringi derap langkah kaki. Atmosfir panik dan takut membuat hatiku ingin memuntahkan rasa-rasa yang tadi dijejalkan. Hanya dalam hitungan detik ruangan ini telah ditinggalkan. Hanya kami yang masih duduk di tempat. Duduk diam dengan kepala tertunduk, dalam perasaan campur aduk yang tidak enak.

Jadi ini lah jawabannya. Luapan rasa marah telah pecah. Pecahannya berserakan di lantai dan di meja, serupa pecahan piring-piring kami. Tapi sebesar apapun kemarahan itu, kami tak sanggup saling menyakiti. Tak ada yang melempar piring ke kepala kawannya. Tak akan pernah ada yang saling menikam.

Sekarang aku sadar, bukan ruang dan waktu yang bertengkar di meja makan. Kami lah yang bertengkar. Kami hanya sekolompok anak berusia dua puluhan awal yang sedang belajar arti kedewasaan, tapi tak seorang pun dari kami telah benar-benar dewasa. Jika kami sudah dewasa, kami tak akan berkomunikasi dengan cara seburuk ini.

Pertengkaran sangat lumrah dalam setiap keluarga. Semua keluarga pasti begitu, bertengkar lalu berbaikan sebelum memulai pertengkaran-pertengkaran selanjutnya. Namun apa yang kami lakukan sangat berbahaya. Memendam kekesalan dan amarah sama seperti menghidangkan bom waktu di meja makan. Celakanya, tak seorang pun tahu kapan bomnya meledak.

Semoga kelak kami menyadari betapa berbahayanya pola komunikasi kami. Mudah-mudahan kami mengerti sebelum ruang dan waktu benar-benar bertengkar di meja makan. Karena jika ruang dan waktu bertengkar, pertemgkarannya akan menimbulkan kekacauan yang lebih hebat daripada ini. Mungkin ruang dan waktu akan tega saling tikam.

***

Seorang pelayan laki-laki berpakaian serba hitam berjalan mendekati meja. Ia membawa gelas-gelas berisi minuman bersoda, lalu meletakkannya di hadapan kami. Seperti apa rasanya minuman bersoda ini? Dan pusing semakin betah bertengger di kepalaku…

Rabu, 01 September 2010

Yang Berpeluh pada Penghujung Subuh

Ketika nadi kehidupan seolah belum berdetak di Universitas Islam Indonesia (UII), mereka sudah lebih dulu bergerak.

Belum genap jam enam, udara dingin masih merajam. Boulevard UII tampak lengang, hanya terdapat dua orang pria paruh baya sedang lari pagi. Lampu penerang jalan masih menyala di sepanjang boulevard. Bulan separuh pun masih menggantung di langit yang perlahan mulai terang.

Suara sapu lidi yang bergesekkan dengan trotoar memecah keheningan. Seorang pemuda mengenakan kaus ungu tua, celana jins dan kaki yang beralaskan sandal jepit biru menyapu dengan sapu lidi bergagang panjang. Tubuhnya kurus dengan tinggi sekira 170 sentimeter. Ia adalah Syarif, satu dari 14 karyawan yang bertugas menjaga kebersihan lingkungan di luar gedung-gedung UII.

Meskipun jam kerjanya mulai pukul tujuh, setiap hari Syarif berangkat sekitar jam 05.45 WIB. “Berangkat awal biar bisa istirahat lebih gasik,” kata Syarif sambil tertawa. Statusnya masih karyawan kontrak. Syarif sudah bekerja selama kurang lebih tujuh tahun di UII. Setiap pagi ia menyapu area samping Masjid Ulil Albab, termasuk di depan tempat penemuan Candi Pustakasala yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu. Siangnya ia akan sibuk merawat taman, kebun dan selokan hingga jam kerja berakhir pada pukul empat sore.

Salah seorang pekerja kebersihan sedang menyapu di boulevard UII

Berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakart Nomor 217/KEP/2009, Upah Minimum Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2010 sebesar Rp 745.694. Jika kelayakan upah diukur berdasarkan upah minimum itu, penghasilan Syarif sudah mendekatinya. Sejak tiga tahun yang lalu, penghasilan bersihnya 28.000 rupiah perhari. Setelah sebelumnya mengalami kenaikan dari 15.000 dan 18.000 per hari.

UII menggunakan nama Pesona Ta’aruf (Pesta) untuk menamai kegiatan orientasi pengenalan kampus kepada mahaisswaa baru. Setiap kali Pesta diselenggarakan, pekerjaan Syarif dan kawan-kawannya menjadi berlipat. Saat Pesta selalu ada banyak sekali sampah. “Tapi bayaran untuk membersihkan tidak ditambah. Panitia mahasiswa itu nggak tahu kalau kita yang membersihkan. Istilahnya nggak ada komunikasi. Mereka nggak memberikan uang tambahan,” kata pria berusia 28 tahun itu.

***

Sudah Sembilan bulan Waluyo menjalani pekerjaan yang tidak jauh berbeda dengan Syarif. Hanya saja ia membersihkan lingkungan dalam wilayah yang lebih sempit. Dia dan 11 orang lainnya bertanggung jawab terhadap kebersihan area sekitar gedung Fakultas Kedokteran. Jam kerjanya pun sama, dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore.

Waluyo sedang menyapu area parkir Fakultas Kedokteran. Kaus berkerah warna biru membalut tubuhnya yang tampak berisi. Celana panjang coklat yang dia kenakan hampir sewarna dengan daun-daun kering yang ia sapu. Dia mengumpulkan sampah daun kering dalam gundukan-gundukan kecil. Pada musim kemarau sampah daun kering akan dibakar, sedang pada musin hujan sampah itu akan ditimbun. Setelah selesai menyapu, Waluyo akan merawat taman-taman di Fakultas Kedokteran.

Dalam hal penghasilan, Waluyo tidak seberuntung Syarif. Gajinya 350.000 per bulan, jauh dibawah ketentuan upah minimum. Gaji itu bukan berasal dari UII. “Yang menggaji kami bukan UII, tetapi CV Wijaya Kusuma. Saya dan kawan-kawan kerja pada CV Wijaya Kusuma. Fakultas Kedokteran UII bekerja sama dengan CV Wijaya Kusuma. CV ini lah yang bertanggung jawab terhadap kebersihan di luar gedung Fakultas Kedokteran,” katanya

Upah yang minim tidak membuatnya menyerah dan bergantung pada belas kasihan. Sebuah upaya dia lakukan untuk menambah penghasilan keluarga. Ia membuka warung kelontong di rumah, warung yang dia kelola bersama dengan istri.

Kedua tangan Waluyo menyapu daun-daun kering dengan sigap. Sesekali ia merapikan ikatan lidi pada sapunya. Titik-titik keringat mulai bermunculan di dahi Waluyo. Tak satu pun keluhan terucap selama ia menyapu. Seolah Waluyo ingin menunjukkan bahwa dibalik pekerjaannya ada kekuatan yang jauh dari keputusasaan.

Beberapa mobil dan motor mulai berlalu-lalang di boulevard pada pukul tujuh. Sebagian besar boulevard sudah bersih dari sampah. Tentu saja, ini berkat para pekerja yang sudah bergerak sejak penghujung subuh.


Foto oleh Akhmad Ikhwan fauzi